Surat untuk Februari

Dari ruang temaram. Surat ini ditulis oleh seorang yang masih tersasar dalam dunia beserta mimpinya. Seorang yang setiap pagi selalu bermain di lautan tak bertepi dengan kata-kata yang berbaris rapi.

_____
Februari. Ini pertemuan ke-20, bukan? Sudah lama sekali ternyata angka-angka mengelilingi kita. Namun, usia hanyalah entah sebab masih ada banyak ranah yang belum terjamah. Meskipun ribuan halaman sudah lewat, tetap saja ada bagian-bagian kosong yang terlewat. Bukan tanpa sebab dan akibat, syukurnya. Padahal boleh jadi banyak di antara mereka yang penuh unik juga pelik.

Tak apa, ke depannya, lautan mimpi itu akan selesai kita selami bersama-sama. Dengan doa-doa sebagai pelampung terbaik. Bersama keyakinan yang kelak menjadi penenang meski awalnya sulit.

Ingat kalimat yang dikutip dari buku bacaan pertama di bulan ini setahun lalu?

“Tetapi bahkan jika kau memimpikan dapat mengeringkan samudra hanya dengan menyedotnya menggunakan mulutmu, itu sah-sah saja. Kau bermimpi dengan hati dan pikiranmu sendiri, bukan meminjamnya dari orang lain.” (Rumah Kayu Itu hlm. 254)

Selamatkan mimpimu yang berserakan di ujung jalan itu dari injakan kaki yang berlalu-lalang. Waktu tidak pernah menunggu, meski ia lebih tahu tentang kapan, di mana, dan bagaimana.

_____
Februari. Hingga detik ini, aku sudah banyak menyaksikan jiwa yang berlalu-lalang di hadapan. Ada yang mengucap salam, yang berkenalan, lantas sebagian menetap di tempat biasa pelupuk mata menatap rimbunnya kembang milik Ibu. Tepatnya di pekarangan tempat impian masa kecil bermekaran. Pada relungnya yang terdalam.

Lalu ke mana sebagian dari mereka? Oh, ya, seperti apa yang dipikirkan; mereka punya tempat lain yang perlu dikunjungi dan hanya singgah sementara di pelabuhan ini. Nun jauh di sana, mereka punya tempat berpulang dan rahasianya masing-masing.

Pada akhirnya, aku tetap di sini ketika orang-orang pun sudah berada tepat pada tempatnya. Lahir, bertumbuh, dan bertransformasi bersama menjadi pribadi yang berbeda dengan tujuan serupa; menjaga asa.

_____
Tertanda,
yang masih menyisir sisa hujan di jalanan.