Surat untuk Februari

Aku ingin kau dan aku duduk di sebuah taman yang bunga-bunganya mekar dengan merdeka. Tak ada kekerasan terhadap tubuh dan kembang bunga itu—yang menjadikan bunga-bunga itu tak harus menyintas luka pukul dan tembakan. Tak ada ancaman-ancaman perampasan tanah terhadap rumah di mana bunga-bunga itu ditanam—yang menjadikan anak-anak bunga itu menjadi bunga dewasa yang memiliki segala warna dan harum.

Aku ingin kau dan aku berlarian di suatu sore yang kuning. Kau dan aku menempuh jarak paling jauh seperti jarak sebuah perasaan yang sebelum ini. Namun, sore ini pukul setengah lima adalah pukul paling tepat untuk mencintai waktu—mencintai kau–dariku dan aku–bagimu.

Aku ingin mengatakan ini kepadamu: Februari memang hanya dua puluh delapan hari. Kau harus tahu tiga puluh dan tiga puluh satu yang tak dimiliki Februari adalah hari yang telah aku ambil dari bulan untuk hidup denganmu di dalamnya.

Namun katamu, “Waktu sebenarnya tak bernama dan berangka—waktu adalah tubuh-tubuh kita. Waktu mengenal apa yang diperbuat oleh bibir kita pada tiap-tiap hari.”

Aku ingin kau dan aku tak hanya mencintai di Februari. Aku ingin kau dan aku tetap mencintai di antara selumbari dan kemarin; hari ini dan esok di bulan-bulan lain.