Seperti pungguk merindukan rembulan adalah peribahasa yang mengartikan seseorang yang merindukan kekasihnya, tetapi cintanya tidak terbalas. Sebetulnya, saya sudah lama mengetahui artinya. Beberapa karya sastra modern yang saya baca pernah menggunakan peribahasa tersebut. Namun, baru sekarang saya tertarik untuk menyelami asal muasalnya lebih jauh.

Betapa beruntungnya saya ketika menemukan buku digital Syair Burung, Syair Burung Nuri, dan Syair Burung Pungguk (2021). Buku itu, tampaknya, tidak akan bisa terbit tanpa koleksi naskah kuno yang dilestarikan oleh Perpustakaan Nasional RI.  Iya, ternyata peribahasa yang sedang kita bicarakan berasal dari sebuah syair, salah satu jenis puisi lama dalam tradisi Melayu.

Syair berasal dari kata Arab sya’irun yang artinya ‘yang merasa’. Selain itu, Nursisto (2000) dalam Yunata (2013) menyatakan bahwa syair berasal dari kata suur yang memaknai ‘perasaan’. Syair bersifat seperti pantun, tetapi bersajak a-a-a-a. Dugaan terkuat saat ini, syair tertua di Nusantara tertulis pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, bertarikh 1380.

Berikut salah satu bait yang saya kutip dari buku Syair Burung Pungguk yang telah dialihaksarakan.

 

Pungguk terbang dahan beraksa

Di dalam hati rusak binasa

Tubuhnya halus samar berasa

Digoda bulan dari angkasa

 

Naskah asli “Syair Burung Pungguk” ditulis dengan aksara Jawi atau aksara Arab-Melayu berbahasa Melayu. Aksara ini merupakan modifikasi dari aksara Arab yang disesuaikan dengan bahasa Melayu di Nusantara. “Syair Burung Pungguk” berkisah tentang seekor burung yang jatuh cinta kepada Putri Bulan. Sang Pungguk merindukannya sebab Putri Bulan tidak terjamah.

Dalam buku digital di atas, Arief Rahman dan Didik Purwanto menafsirkan bahwa “Syair Burung Pungguk” adalah syair simbolik yang menceritakan ketidakberhasilan cinta karena perbedaan strata. Putri Bulan memiliki derajat yang lebih tinggi ketimbang Pungguk.

Maka, dari kisah yang memilukan hati tersebut, lahirlah peribahasa seperti pungguk merindukan rembulan.

 

Rujukan:

  • Rahman, Arief, & Purwanto, Didik. 2021. Syair Burung, Syair Burung Nuri, dan Syair Burung Pungguk. Jakarta: Perpusnas PRESS.
  • Yunanta, Elsa. 2013. “Telaah Stilistika dalam Syair Burung Pungguk”. Dalam Jurnal Bahas, Vol. 8, No. 1, April, hlm. 75–82. Medan: Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin