Dalam berkomunikasi, kita memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksud dan tujuan. Dengan kata lain, sebetulnya, kita bergantung pada makna kata. Apabila diksi tidak mampu mewakili perasaan atau pikiran kita, bisa-bisa, pesan gagal terutarakan. Bukan tidak mungkin, kesalahpahaman berujung pada debat yang berlarut-larut atau bahkan memicu konflik. Maka dari itu, kita perlu mengetahui faktor-faktor beserta contoh-contoh di bawah ini untuk menghindari kekeliruan makna.

Pasangan Seasal

Pasangan seasal merupakan pasangan kata dengan bentuk asal yang sama. Maknanya pun berdekatan. Contohnya adalah kata kurban dan korban serta lolos dan lulus. Meskipun memiliki makna yang hampir serupa, dua pasang kata tersebut digunakan dalam konteks yang berbeda. Contoh lainnya dapat kita temukan pada kata berimbuhan, seperti mengaji dan mengkaji. 

Pasangan Rancu

Berbeda dengan pasangan seasal, pasangan rancu memuat dua kata dengan makna yang berbeda. Kekeliruan kita dalam memilih kata berpotensi mengacaukan gagasan tulisan atau ujaran. Contohnya adalah kata syah yang merupakan nomina dan memiliki arti ‘raja’ dan sah yang merupakan verba dan memiliki arti ‘dilakukan menurut hukum’, ‘tidak batal’, serta ‘berlaku’. Bahkan, sah juga bisa berdiri sebagai adjektiva yang mengartikan ‘boleh dipercaya’ dan ‘pasti’. Selain itu, saya beberapa kali membaca kalimat dalam sebuah tulisan yang mengandung kata terbesit. Saya perlu membaca ulang kalimat dan memahami konteks untuk mengoreksi kata tersebut menjadi tebersit.

Homograf dan Homofon

Homograf adalah dua kata dengan ejaan yang sama namun berbeda secara pelafalan (bunyi) dan pemaknaan, misalnya apèl (upacara) dan apêl (buah). Sementara itu, homofon adalah dua kata yang sama dalam pelafalan, tetapi berbeda secara pengejaan dan pemaknaan, seperti sanksi dan sangsi. Dari homofon dan homograf, kita bisa belajar bahwa bunyi dan ejaan memengaruhi keutuhan makna.

Diksi yang Tidak Tepat

Pemilihan kata atau diksi yang tidak tepat tentu berpengaruh pada makna. Acap kali, ketidaktahuan atau perbendaharaan kosakata yang sedikit mengantar kita pada kekeliruan ini. Contohnya adalah jam dan pukul. Walaupun keduanya menunjukkan waktu, keduanya memiliki perbedaan dan tidak dapat saling menggantikan. Jam adalah alat untuk mengukur waktu, sedangkan pukul merujuk pada sesuatu yang abstrak, yakni proses yang sedang berlangsung. 

Pasangan seasal, pasangan rancu, homofon dan homograf, serta diksi merupakan faktor-faktor yang bisa mengakibatkan kita gagal dalam menyampaikan maksud. Huruf dan pelafalan dalam sebuah kata mampu mengubah makna satu kalimat. Bahkan, diksi yang tidak tepat bisa membuat pembaca atau mitra tutur mengernyit kebingungan. Oleh karena itu, jangan malas untuk melakukan peninjauan ulang: berpikir sebelum berucap; baca lagi sebelum mengirim. Lebih dari itu, bukalah kamus. Ketelitian kita bisa meredam kekeliruan makna dan mencegah kesalahpahaman.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Harrits Rizqi