Suatu hari saya menemukan kalimat bijak dari Noe, vokalis grup musik Letto. Cuplikan omongannya yang saya lihat pada platform TikTok kira-kira berbunyi begini: “Kegagalan bukanlah keberhasilan yang tertunda. Tapi, kegagalan adalah keberhasilan yang tak terwujud.” Saya tertawa sedikit, mengiakan.

Ungkapan Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda pasti sudah sering kita dengar. Kalimat tersebut acap diutarakan untuk menyenangkan atau menenangkan hati kita yang sedang putus asa lantaran gagal dalam suatu hal. Namun, apa yang diucapkan oleh Noe memberikan perspektif yang lain. Kita sebaiknya berani untuk mengatakan bahwa gagal, ya, gagal. Mungkin itu juga yang disiratkan oleh Noe. Saya jadi berpikir, jangan-jangan, Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda merupakan bentuk eufemisme dalam sebuah kalimat.

Eufemisme adalah penghalusan makna. Kridalaksana (2009: 59) menuliskan bahwa eufemisme adalah pemakaian kata atau bentuk lain untuk menghindari bentuk larangan atau tabu, seperti mati menjadi meninggal dan berak menjadi buang air besar. Bahkan, ada pula anggapan bahwa mengamankan adalah eufemisme dari menangkap.

Merriam-Webster mengartikan eufemisme sebagai ‘the substitution of an agreeable or inoffensive expression for one that may offend or suggest something unpleasant’. Sementara itu, Collins Dictionary memaknainya dengan ‘a polite word or expression that is used to refer to things which people may find upsetting or embarrassing to talk about, for example sex, the human body, or death’.

Bisa kita lihat, eufemisme juga bertujuan untuk tidak menyinggung orang lain. Dalam konteks kalimat Noe, Kegagalan adalah keberhasilan yang tidak terwujud mungkin berpotensi membuat orang yang gagal makin putus asa. Maka, terciptalah Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Padahal, tidak jarang, kegagalan memang merupakan keberhasilan yang tidak akan pernah terwujud.

Kalimat-kalimat motivasi tentunya ingin memberikan semangat atau dorongan optimisme kepada pendengar dan pembacanya. Kita yang sedang dalam kondisi goyah atau tidak stabil secara mentalitas membutuhkan dukungan tersebut. Namun, agaknya kita harus berhati-hati. Kalimat motivasi bukanlah janji yang harus kita tagih. Dalam beberapa kasus, ia berwujud eufemisme yang menawarkan optimisme semu, mengaburkan kepastian. 

Bisa saja, karena terlalu optimistis, kita tidak bisa berpikir rasional. Kalau sudah menyatakan cinta dan ditolak, tidak serta-merta kita harus mencoba lagi. Mungkin, memang bukan dia yang bisa membalas perasaan kita. Adakalanya, kegagalan adalah keberhasilan yang tidak terwujud. Terimalah dengan lapang.

 

Rujukan: Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik: Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin