Suatu hari, saya bertanya-tanya sendiri. Dari mana kata mengapél muncul? Istilah tersebut tentu tidak terlepas dari fenomena bahasa slang, yakni ‘ragam bahasa tak resmi yang dipakai oleh kaum remaja atau kelompok-kelompok sosial tertentu untuk komunikasi internal sebagai usaha supaya orang-orang kelompok lain tidak mengerti’. Iya, saya adalah salah satu orang-orang kelompok lain yang pada awalnya tidak mengerti maksud dari mengapél.

Sebelum membedahnya, kita bedakan dulu antara apêl dan apél. Apêl dengan vokal /ə/ (e pepet) memaknai ‘buah’. Sementara itu, apél dengan vokal /e/ (e taling) mengartikan ‘upacara’ dan ‘mengunjungi pacar’ dalam ragam cakapan. Pada lain sisi, dalam ranah militer, apél dengan vokal /e/ juga memaknai ‘wajib hadir dalam suatu upacara resmi (bersifat kemiliteran) untuk diketahui hadir tidaknya atau untuk mendengar amanat’. Apêl dan apél memiliki relasi homograf, yaitu ‘dua kata dengan ejaan yang sama, tetapi memiliki perbedaan pelafalan (bunyi) dan pemaknaan’.

Nah, sekarang, mari, kita mulai menelusuri apél yang mengartikan ‘mengunjungi pacar’. Ini adalah fenomena sosiolinguistik. Di sini, komunitas tutur (speech community) memainkan bahasa sebagai tanda sosial. 

Kata apél pasti lebih sering kita dengar sebagai ngapél. Ada yang mengaitkan ngapél, yakni ‘mengunjungi pacar’, dengan makna ‘wajib hadir dalam suatu upacara resmi (bersifat kemiliteran) untuk diketahui hadir tidaknya atau untuk mendengar amanat’. Dalam ranah militer, upacara resmi tersebut wajib untuk dihadiri, sama halnya dengan ranah percintaan, mengunjungi pacar pun, sekali-sekali, wajib dilakukan.

Menariknya lagi, dalam Kamus Bahasa Melayu Bangka-Indonesia Edisi Pertama (2018), kata ngapél ditemukan. Artinya pun ‘mengunjungi pacar’. Dalam kamus tersebut, dituliskan contoh berupa tunang ku gi ngapel mawak hok lo pan yang berarti ‘pacar saya bertamu ke rumah membawa kue martabak’. Kemudian, dalam Antologi Kajian Kebahasaan I (2008) yang menganalisis karakteristik bahasa gaul dan intensitas penggunaannya oleh remaja di Aceh, juga ditemukan kata ngapél yang artinya adalah ‘berkunjung’.

Penelusuran yang saya lakukan menempatkan ‘kunjung’ sebagai nuansa yang penting di balik kata ngapél. Berdasarkan latar penggunaannya, ngapél menyimpan konteks yang lumayan tradisional bahwa lelakilah yang mengunjungi perempuannya. Cukup sulit untuk menemukan informasi mengenai kapan pertama kali ngapél digunakan dan bagaimana etimologinya. Sumber di internet yang membahas hal ini juga terbatas. Saya rasa, diperlukan penelitian yang serius untuk menemukan asal mula kata ngapél. Namun, setidaknya, kita bisa sedikit mengetahui bahwa ngapél tidak hanya digunakan di Jakarta.

 

  • Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Khaliffitriansyah, dkk. 2018. Kamus Bahasa Melayu Bangka-Indonesia Edisi Pertama. Pangkalpinang: Kantor Bahasa Kepulauan Bangka Belitung.
  • Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Kushartanti, dkk. (ed). 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Moeliono, Anton M., dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  • Rizqi, Mohammad, Samsudin, Dindin, & Nurhaida. 2008. Antologi Kajian Kebahasaan I. Banda Aceh: Balai Bahasa Banda Aceh.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin