Terdapat dua jenis tanda kurung, yakni tanda kurung lengkung ((…)) dan tanda kurung siku ([…]). Meskipun sama-sama berfungsi sebagai pengapit, keduanya digunakan dalam konteks yang berbeda. Bagaimana cara menggunakan tanda kurung lengkung dan siku?

Tanda Kurung Lengkung

Tanda kurung lengkung sering kali berperan sebagai pengapit bagi keterangan atau penjelasan tambahan. Pada kalimat “Dia ditilang karena tidak membawa SIM (surat izin mengemudi),” misalnya. Tanda kurung digunakan untuk menjabarkan kepanjangan dari SIM.

Kerap kali, keterangan tambahan berwujud seperti contoh berikut.

Sapardi Djoko Damono (penyair kondang asal Indonesia) lahir pada 20 Maret 1940. 

Tanda kurung lengkung pun bisa digunakan untuk mengapit pelesapan kata.

Dia berlayar ke (Semenanjung) Skandinavia. 

Peran yang terakhir, tanda kurung lengkung lazim digunakan untuk mengapit angka atau huruf sebagai pemerincian. 

Untuk membuat kiriman media sosial yang efektif, Anda perlu memperhatikan (a) tujuan kiriman, (b) kerapian takarir, dan (c) kecantikan visual. 

Tanda Kurung Siku

Berbeda dengan kurung lengkung, tanda kurung siku dapat digunakan untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.

Dia pergi ke ban[k] untuk meminjam sejumlah uang.

Apakah tanda kurung lengkung dan siku dapat digunakan pada waktu yang bersamaan? Tentu saja. Perhatikan kalimat di bawah ini.

Menurut dosen saya, hal tersebut (penjelasan tentang kalimat yang efektif [lihat halaman 40–45]) perlu disajikan ulang dalam bahasa yang lebih sederhana.

Tanda kurung lengkung dan siku memang sama-sama berperan sebagai pengapit. Kendati demikian, sebaiknya kita tidak sembarangan dalam menggunakannya. Ketika kita harus menyisipkan banyak informasi tambahan dalam sebuah kalimat, gunakanlah kurung lengkung dan siku dengan bijak.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Harrits Rizqi