Kerabat Nara yang lahir pada tahun 1990-an mungkin mengenal tanda yang satu ini. Ketika sekolah dasar, bahkan hingga SMP, kita membaca tanda atau simbol ini sebagai bahasa keberhasilan. Bapak atau ibu guru akan membubuhkannya ketika soal-soal yang kita kerjakan telah terjawab dengan benar.

Belakangan saya baru tau bahwa simbol ini bernama ikal persetujuan. Ternyata, simbol yang berasal dari Belanda ini belum terdaftar dalam KBBI. Dalam bahasa aslinya, ikal persetujuan disebut krul—dapat ditemukan dalam KBBI, bertuliskan kerul yang memaknai ‘ikal’—, kependekan dari goedkeuringskrul.

Selain itu, ada pula yang berpendapat bahwa ikal persetujuan adalah huruf “g” yang ditulis secara tergesa, menandakan goed (‘bagus’) atau gezien (‘telah dilihat’). Karena berkembang di Belanda, simbol ini pada akhirnya turut digunakan oleh masyarakat di daerah-daerah jajahan Negeri Kincir Angin, seperti Afrika Selatan, Aruba, dan Suriname.

Sementara itu, dalam bahasa Inggris, ikal persetujuan disebut flourish of approval. Tanda krul makin menarik untuk dibahas ketika saya menonton sebuah video di YouTube, berjudul “Daniëlle Cathari – The Krul, First Memories of the Flourish of Approval”.

Video tersebut menghadirkan rekaman suara dari beberapa orang tentang kesan mereka terhadap simbol ini. Ada yang mengatakan bahwa krul membangkitkan kenangan indah di masa lalu, seperti ketika mendapatkan nilai bagus dari guru. Lebih dari itu, seseorang beranggapan, “The krul gives me a sense of acceptance.” Yang lainnya mengatakan, “The first feeling that gets to me whenever I think about the kruls is positivity.”

Rasa penerimaan dan nuansa yang positif terkandung dalam ikal persetujuan. Dalam ingatan kita juga, barangkali, tanda ini menghadirkan ketenangan.

Bahasa adalah sistem tanda yang disepakati. Terkadang, kita tidak memerlukan deretan kata atau berbaris-baris kalimat untuk menenangkan hati. Ingat saja masa-masa sekolah dahulu. Satu tanda krul, ikal persetujuan, atau flourish of approval pernah membuat kita merasa diterima.

 

Rujukan

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin