Frasa dan klausa adalah dua istilah yang membingungkan saya ketika masih duduk di bangku kuliah. Keduanya seolah membuat kepala saya gatal minta digaruk.

Saya hanya tahu bahwa klausa memiliki potensi besar untuk menjadi kalimat. Jika tidak, rangkaian kata itu disebut frasa. Pemahaman tersebut akhirnya mengantar saya pada nilai C dalam mata kuliah sintaksis. Meskipun lulus, saya masih terbata-bata untuk membedakan keduanya.

Beberapa teman saya bilang, linguistik menjadi amat seru untuk dikulik lebih jauh ketika sudah lulus. Barangkali, begitu terjun ke dalam dunia pekerjaan, banyak sekali pertanyaan dari orang awam mengenai bahasa. Ditambah lagi, berita-berita media daring hari ini juga diramaikan dengan masalah kebahasaan. Tentu ada sedikit rasa malu ketika kita tidak dapat menanggapinya. Selain itu, dalam ranah jasa penulisan, tak jarang segelintir klien akan menerima pendapat para penulis wara apabila disisipi argumentasi teoretis.

Frasa

Umumnya, frasa terdiri atas dua kata atau lebih. Jika lebih dari satu kata, ada bagian yang disebut unsur utama atau inti. Sisanya merupakan unsur pelengkap yang disebut juga sebagai unsur keterangan, atribut, dan pewatas. Untuk membedakan keduanya, kita dapat mengingat bahwa unsur utama merupakan unsur yang diterangkan, sedangkan unsur pelengkap merupakan unsur yang menerangkan.

Buku merah merupakan contoh frasa. Buku–yang berkategori nomina–berdiri sebagai unsur yang diterangkan, sedangkan merah berdiri sebagai pelengkap. Buku merah tergolong ke dalam frasa nominal sebab buku adalah nomina yang berkedudukan sebagai unsur inti. Selain frasa nominal, ada pula frasa adjektival, frasa verbal, dan frasa numeral, seperti sangat cepat, sudah pulang, dan tiga lusin.

Perlu diingat, frasa tidak dapat menduduki dua fungsi sintaksis dalam satu kalimat. Artinya, frasa hanya dapat berdiri sebagai subjek, predikat, objek, atau keterangan saja. Apabila melewati batasan tersebut, sebuah gagasan atau ujaran akan berubah menjadi klausa atau kalimat.

Klausa

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, klausa memiliki potensi yang lebih besar untuk menjadi sebuah kalimat daripada frasa. Klausa adalah satuan gramatikal yang setidaknya terdiri atas subjek dan predikat, tetapi belum lengkap untuk berdiri sebagai kalimat.  Contohnya sebagai berikut.

  1. Sejak membaca buku itu
  2. Meskipun hujan deras
  3. Yang aku tahu

Tiga contoh di atas merupakan ujaran yang belum rampung. Mereka merupakan klausa yang akan tuntas menjadi kalimat apabila kita menambahkan klausa lain.

  1. Sejak membaca buku itu, pikiran saya semakin terbuka.
  2. Meskipun hujan deras, saya tetap pergi ke rumahnya.
  3. Yang aku tahu, mobil itu bukan miliknya.

 Dengan menyelami frasa dan klausa lebih jauh, kita dapat mengetahui masalah-masalah kebahasaan yang sering kali kita jumpai dalam keseharian. Misalnya, sebuah kalimat terasa ambigu karena mengandung frasa idiomatis seperti kambing hitam. Apakah kambing hitam mengartikan kambing yang berwarna hitam atau oknum/pihak yang terfitnah? Tentu hal ini perlu disesuaikan dengan konteks wacana. Kita pun dapat mengetahui sebuah frasa yang gemuk dan ambigu karena memiliki pewatas yang tidak jelas. Sementara itu, dalam klausa, kita dapat mengidentifikasi penyebab-penyebab ketidakefektifan suatu kalimat. Percayalah, banyak sekali kalimat bermasalah yang dapat kita bereskan dengan memahami klausa.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Harrits Rizqi

Rujukan: Sasangka, Sry Satriya Tjatur Wisnu. 2014. Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Kalimat. Jakarta.