Bahasa memiliki peran yang esensial dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Setiap hari kita berbahasa saat berbicara dengan orang lain. Kita berbahasa saat menyampaikan pendapat, kritik, dan saran. Kita berbahasa saat merasa senang, sedih, bahagia, kecewa, dan marah. Kita bahkan berbahasa saat sedang berpikir, menulis, dan membaca. Lebih dari itu, kita menggunakan bahasa tatkala sedang berdoa.

Kita mungkin sering mendengar dan setuju bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Dalam buku Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik (2005), bahasa diartikan sebagai ‘alat komunikasi berupa sistem lambang bunyi yang dimiliki manusia’. Dari pengertian tersebut, kita bisa menarik sedikit pemahaman bahwa bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi. Kita dapat pula mempelajari enam fungsi bahasa berdasarkan pemaparan Roman Jakobson—seorang linguis asal Rusia—, yakni fungsi referensial, emotif, konotatif, fatis, metalingual, dan puitis. Lebih dari itu, linguis asal Inggris, yakni Geoffrey Leech, juga telah menjabarkan fungsi bahasa menjadi lima kategori: (a) informatif; (b) ekspresif; (c) direktif; (d) estetis; dan (e) fatis. 

Menurut saya, ada pemahaman mengenai fungsi bahasa yang menarik untuk dibahas lebih jauh. Sudaryanto, doktor linguistik dari Universitas Gadjah Mada, mengaku telah memikirkan masak-masak fungsi bahasa, khususnya bahasa verbal. Baginya, bahasa memiliki fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh medium lain. Dia berpendapat bahwa bahasa memiliki dua fungsi yang spesifik dan hakiki, yakni untuk mengembangkan akal budi dan merawat kerja sama.  

Berlandaskan pada kesadaran manusia, akal budi bisa dilestarikan melalui bahasa verbal. Akal budi yang memuat berbagai macam nilai atau ajaran akan dirawat pula dengan kerja sama kebahasaan. Maksudnya, manusia memerlukan manusia lainnya untuk saling berdialog, membangun, dan meninggalkan jejak. Menurut Sudaryanto, dari sanalah kebudayaan bisa lahir. Berkat dua fungsi bahasa verbal tersebut, dunia bisa terus berputar dan beradaptasi.

Tentu kita bisa melanjutkan dua fungsi bahasa menurut Sudaryanto tersebut ke dalam bahasa tulis. Saya rasa, fungsi luhur di atas tidak seharusnya berhenti pada ranah lisan saja. Kita, yang sering kali berpuas hati pada pemanfaatan bahasa sebagai instrumen komunikasi semata, diajak untuk berpikir lebih dalam lewat pemaparan Sudaryanto. 

Memang, sebagai manusia, sudah sewajarnya kita merasa perlu menyampaikan pesan dan mengungkapkan isi hati. Kita telah diajarkan untuk tidak memendam. Itu baik. Akan tetapi, apabila berbicara dalam konteks yang lebih besar dan mendasar, manusia selalu membutuhkan manusia yang lainnya. Oleh karena itu, lebih dari sekadar pesan-pesan yang tersampaikan, kita membutuhkan pesan-pesan yang saling tersampaikan. Kita perlu berdialog, berdebat, dan merawat kesalingan melalui bahasa. Dengannya, manusia dapat hidup berdampingan, mencapai kesepakatan, mengembangkan akal budi, dan menciptakan dunia yang lebih baik. Semoga.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Dessy Irawan

Rujukan: