Setiap orang pasti pernah merasa mandek dalam melakukan sesuatu, bahkan terhadap hal-hal yang sudah mereka jalankan secara rutin. Penulis pun tidak terhindar dari kebuntuan. Fenomena tersebut lebih dikenal dengan istilah writer’s block.

Konsep kebuntuan dalam menulis pertama kali dipopulerkan pada 1940-an oleh Edmund Bergler, seorang psikoanalis asal Austria yang besar di New York. Menurut M. Castillo dalam American Journal of Neuroradiology (2014), kebuntuan menulis lebih cocok disebut sebagai hambatan kreatif, sebagaimana pernah dialami oleh para penulis pada era romantisisme yang kemudian berkembang pada gerakan simbolisme di Prancis dan tradisi penulisan novel di Amerika.

Penyebab kebuntuan menulis pun bermacam-macam. Berdasarkan tulisan Castillo, hal itu bisa diakibatkan oleh ketiadaan inspirasi, sakit, depresi, tekanan finansial, dan ketakutan untuk gagal. Lachs (2018) dalam Rahmat (2020) juga menyatakan bahwa kebuntuan menulis terjadi akibat faktor ketakutan, sifat perfeksionis, kritik yang terlalu keras terhadap diri sendiri, dan tekanan eksternal.

Saya pun teringat, Dea Anugrah pernah berkata bahwa kebuntuan dalam menulis tidak selalu berasal dari dalam diri penulisnya sendiri. Pada lain sisi, hambatan eksternal juga sering kali mengganggu produktivitas. Misalnya, suatu hari saya menikah dan harus beradaptasi dengan situasi yang baru. Saya bisa saja amat sibuk mengurusi rumah tangga dan tidak punya waktu untuk menulis. Itu juga tergolong dalam kebuntuan dalam menulis.

Terlebih, seseorang bisa saja gemar menulis, tetapi karena harus bekerja begitu keras di ranah lain, dia tidak lagi punya waktu untuk menekuni hobinya. Seolah, tidak ada kesempatan bagi orang itu untuk mengasah kemampuannya dalam menulis. Begitu dia hendak menulis, pikirannya buntu. Kebuntuan menulis itu bisa kita kaitkan dengan tidak terpenuhinya kebutuhan finansial.

 

Saya jadi tersadar. Selama satu tahun terakhir, saya bekerja sebagai penulis untuk memenuhi tuntutan hidup. Saya melemburkan diri untuk menulis artikel, laporan, wara, dan sebagainya. Kebiasaan saya dalam menulis untuk diri sendiri luntur perlahan-lahan. Bagi saya, itu adalah bentuk kebuntuan. Apakah kebuntuan itu adalah sesuatu yang buruk?

Rasanya tidak selalu. Jika tidak ada kehidupan, tidak ada tulisan. Dalam tulisan “The Most Valuable Asset as a Writer is Your Life” (2020), Khan menulis, “… hidupmu adalah satu hal yang tidak dijalani oleh orang lain di dunia. Dan berdasarkan hukum ekonomi, itulah aset terpenting yang kamu punya.” Dia menambahkan, “You don’t have to be a genius to generate breakthrough ideas to write about. You just have to live. The more you’ll live, the better you’ll write.

Bagi banyak orang, berumah tangga merupakan satu capaian dalam hidup sekalipun mereka berprofesi sebagai penulis. Saya juga yakin beberapa dari Kerabat Nara memiliki kegemaran lain yang acap kali menyita waktu. Terkadang, tuntutan-tuntutan dari luar memang mengantarkan kita pada kebuntuan menulis.

Akan tetapi, kebuntuan itu bukanlah sebuah malapetaka. Ia adalah fenomena yang wajar, bahkan harus dialami oleh setiap penulis. Kebuntuan justru membuktikan bahwa menulis bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan, sama seperti karier lainnya.

 

Saya rasa, sudah banyak kiat yang terdokumentasi dalam internet untuk membantu kita mengatasi kebuntuan menulis. Dari semua itu, menurut saya, yang terpenting adalah keberanian untuk menentukan jeda. Ambillah cuti. Segarkan pikiran dengan berlibur. Jika terlalu sibuk dengan pekerjaan lain di luar menulis, tidak apa-apa. Jalani saja. Hidup bukan soal menulis semata. Barangkali, memang ada hal lain yang lebih genting untuk diupayakan.

 

Rujukan:

  • Castillo, M. 2014. “Writer’s Block”. American Journal of Neuroradiology, Volume 34, hlm. 1043–1044. Pennsylvania: Lippincott Williams & Wilkins.
  • Khan, Mehboob. 2020. “The Most Valuable Asset as a Writer is Your Life”. The Writing Cooperative. Diakses pada 20 Agustus 2021.
  • Nordquist, Richard. 2019. “Writer’s Block”. ThoughtCo. Diakses pada 20 Agustus 2021.  
  • Rahmat, Noor Hanim. 2020. “Writer’s Block: How Far is True?”. Global Journal of Social Sciences Studies, Volume 6, Nomor 1, hlm. 51–63. Online Science Publishing.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin