Dalam sebuah wacana, kita membutuhkan unsur-unsur kebahasaan yang saling merujuk dan berkaitan secara semantis. Dengan demikian, pembaca bisa mendapatkan konteks yang utuh dalam wacana itu. Unsur-unsur kebahasaan tersebut dinamakan kohesi.

Barangkali, kohesi yang umum digunakan adalah repetisi, sinonimi, dan antonimi. Ketiga kohesi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membentuk suatu wacana yang kokoh. Berikut adalah contohnya.

  1. Repetisi: Kini Soleh hidup seorang diri di Jakarta. Baginya, Jakarta adalah rumah yang tak tergantikan.
  2. Sinonimi: Kini Soleh hidup seorang diri di Jakarta. Baginya, ibu kota adalah rumah yang tak tergantikan.
  3. Antonimi: Kini Soleh hidup seorang diri di Jakarta. Tahun lalu, kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah ke Bali. Katanya, sang ayah sudah tidak kuat dengan polusi udara. Sementara itu, sang ibu ingin menjauh dari keramaian metropolis. Meskipun demikian, Soleh tetap tinggal. Baginya, ibu kota adalah rumah yang tak tergantikan.

Di luar itu, ada pula kohesi metonimia, yakni ‘hubungan antara nama untuk benda yang lain yang berasosiasi atau yang menjadi atributnya’ (Yuwono, 2005). Kohesi ini sering kali merujuk pada nama perusahaan, produk, atau merek/jenama. Coba perhatikan kalimat Frans akan berangkat ke Surabaya dengan Garuda. Apakah Frans menaiki burung garuda? Tentu tidak. Frans pergi ke Kota Pahlawan dengan pesawat Garuda. Tanpa perlu dijelaskan, pembaca asal Indonesia mungkin dapat memahami kalimat itu.

Contoh lainnya ialah penggunaan merek Aqua. Beberapa dari kita terbiasa untuk mengucapkan Saya haus. Kamu punya Aqua? Bagaimana jika seseorang yang Kerabat Nara ajak bicara merupakan pelanggan setia Ades? Kemudian, ada pula kebiasaan untuk menyebut TOA, Odol, dan Hansaplast alih-alih megafon, pasta gigi, dan plester.

Saya melihat bahwa metonimia merupakan salah satu indikator keberhasilan sebuah perusahaan dalam menanamkan kesadaran merek atau jenama terhadap publik. Saking terkenalnya, orang-orang sampai lupa bahwa Garuda, Aqua, TOA, Odol, dan Hansaplast merupakan nama merek. Luar biasa, ‘kan?

 

Rujukan: Kushartanti, dkk. (ed). 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin