Banyak yang mengabaikan keutuhan sebuah kalimat. Kadang, saya membaca kalimat yang tidak memiliki subjek atau menggunakan konjungsi yang tidak tepat. Ada pula penulis yang ragu untuk membubuhkan tanda titik sehingga kalimat menjadi terlampau panjang.

Perlu diketahui bahwa kalimat selalu memiliki gagasan atau ide yang hendak disampaikan. Struktur kalimat yang berantakan akan mengubah sebagian atau, bahkan, seluruh makna yang ingin disampaikan. Selain itu, kalimat yang tidak kokoh berpotensi memicu kesalahpahaman. Berikut ini adalah jenis-jenis kesalahan pada tataran kalimat yang sering kali saya temukan. 

  1. Tanpa Subjek

Ketiadaan subjek membuat sebuah kalimat menjadi sulit dimengerti: Siapakah yang melakukan sebuah kegiatan? Contohnya dapat dilihat di bawah ini.

a. Untuk perjalanan itu memerlukan ongkos yang cukup banyak.

b. Perlu ongkos yang cukup banyak.

Kalimat a dan b dapat diperbaiki menjadi seperti berikut.

Saya perlu ongkos yang cukup banyak untuk perjalanan itu.

  1. Tanpa Predikat

Surat tugas yang sudah ditandatangani itu.

Contoh di atas tidak bisa berdiri sebagai kalimat karena tidak memiliki predikat. Surat tugas yang sudah ditandatangani itu adalah sebuah subjek. Perhatikan perbaikan berikut.

Surat tugas yang sudah ditandatangani itu telah dikirimkan melalui surel.

  1. Buntung

Tanpa subjek dan predikat, rangkaian kata tidak dapat membentuk sebuah kalimat. Kalimat buntung adalah kalimat yang tidak selesai dan tidak lengkap secara struktur. Perhatikan contoh berikut. 

Lelaki itu menatapku dengan aneh. Penuh dengan kecurigaan. 

Kalimat pertama sudah berdiri dengan kokoh. Namun, kalimat berikutnya terasa buntung. Oleh karena itu, kita perlu membubuhkan subjek dan predikat atau meleburkan dua kalimat ini menjadi satu kalimat penuh. 

a. Lelaki itu menatapku dengan aneh, penuh dengan kecurigaan.

b. Lelaki itu menatapku dengan aneh. Matanya penuh dengan kecurigaan.

  1. Bersubjek Ganda

Kalimat yang memiliki subjek ganda akan menimbulkan kebingungan bagi pembaca. Kalimat a di bawah ini akan menjadi lebih efektif apabila kita menentukan subjek seperti kalimat b. 

a. Buku itu saya sudah membacanya.

b. Saya sudah membaca buku itu.

  1. Bersisip Preposisi

Sekilas, rasanya tidak ada yang salah pada kalimat di bawah ini. Namun, kita perlu mengetahui kalimat aktif transitif, yakni kalimat yang memiliki objek sehingga preposisi sebagai pengantar objek tidak diperlukan. Contoh kesalahan tersebut bisa dilihat di kalimat berikut.

Kami membicarakan tentang hak Anda.

Perbaikan yang dapat dilakukan adalah menghapus kata tentang sehingga kalimat itu menjadi Kami membicarakan hak Anda. Apabila kita ingin menggunakan preposisi, membicarakan sebaiknya diubah menjadi berbicara sehingga kalimat tadi menjadi Kami berbicara tentang hak Anda.

  1. Tanpa Konjungsi

Banyak penulis yang terpengaruh dengan model kalimat dalam bahasa Inggris. Akibatnya, konjungsi sering kali ditanggalkan. Sayangnya, hal ini kurang tepat jika diterapkan ke dalam bahasa Indonesia. Bisa-bisa, kalimat menjadi tidak efektif karena kehilangan penanda anak kalimat. Perhatikan kalimat di bawah ini. 

Melihat hasil pekerjaan Anda, saya sangat kecewa.

Kalimat di atas tidak menunjukkan kedudukan antarkalimat. Manakah yang berdiri sebagai anak dan induk kalimat? Hubungan sebab-akibat pun tidak tertulis dengan jelas. Dengan perbaikan di bawah ini, kalimat tersebut dapat menjadi lebih jelas, baik secara struktur maupun runtutan peristiwa. 

a. Setelah melihat hasil pekerjaan Anda, saya sangat kecewa. 

b. Saya sangat kecewa setelah melihat hasil pekerjaan Anda.

  1. Lewah Konjungsi

Bukan hanya ketiadaan konjungsi yang dapat membuat kalimat menjadi rancu. Penggunaan konjungsi secara berlebihan pun dapat berakibat fatal. Saya sering menemukan kelewahan konjungsi pada konjungsi meskipun …, tetapi … atau jika …, maka … seperti di bawah ini. 

a. Jika hari hujan, maka saya tidak datang.

b. Meskipun hujan, tapi saya tetap pergi.

Perlu dicatat, apabila sudah menggunakan jika, kita tidak perlu membubuhkan maka. Jika dan maka bukanlah sebuah pasangan, sama seperti meskipun dan tetapi/namun/tapi. Kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi begini.

a. Jika hari hujan, saya tidak datang.

b. Meskipun hujan, saya tetap pergi.

  1. Tidak Paralel

Paralel adalah perihal kesetaraan. Perhatikan dua kalimat di bawah ini. 

a. Harga BBM dibekukan atau kenaikan secara luwes.

b. Harga BBM dibekukan atau dinaikkan secara luwes.

Pada kalimat a, ada ketidaksetaraan antara dibekukan dengan kenaikan. Dibekukan merupakan verba sedangkan kenaikan merupakan nomina. Agar dapat menjadi paralel, kenaikan pada kalimat a diubah menjadi dinaikkan.

  1. Ambigu

Pembaca atau pendengar akan kesulitan untuk menemukan makna dalam kalimat yang ambigu. Ambiguitas dapat disebabkan beberapa hal, antara lain, intonasi yang tidak pas, pemakaian kata yang bersifat polisemi, atau struktur kalimat yang rumpang. Bentuk kalimat ambigu dapat dilihat seperti di bawah ini.

Mobil rektor yang baru mahal harganya.

Kalimat tersebut akan menimbulkan pertanyaan: Yang baru itu rektornya atau mobilnya? Perbaikan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

a. Rektor memiliki mobil baru yang mahal harganya.

b. Rektor yang baru memiliki mobil dengan harga yang mahal.

  1. Tidak Logis

Kadang, niat kita dalam mempercantik kalimat bisa berujung pada ketidaklogisan. Kalimat yang tidak logis adalah kalimat yang tidak masuk akal. Kalimat berikut ini contohnya.

Untuk mempersingkat waktu, mari, kita lanjut ke acara berikutnya.

Perlu diingat, waktu tidak mungkin dipersingkat. Kita hanya menghematnya. 

  1. Campur Kode

Campur kode kerap dianggap mencerminkan keahlian penulis dalam menguasai bahasa asing. Namun, mengapa harus menggunakan kata asing apabila bahasa kita memiliki padanannya? 

At least, hal ini sudah di-discuss dengan para owners.

  1. Kata Tanya yang Tidak Sepi

Bentuk-bentuk seperti di mana, yang mana, dan dari mana sering digunakan sebagai kata penghubung. Pola ini kita tiru dari bahasa Inggris yang memakai where atau which sebagai konjungsi. Namun, dalam bahasa Indonesia, sebaiknya kita tidak menelan rumus kalimat dalam bahasa Inggris itu mentah-mentah. 

Ia membuka tas di mana ia menyimpan fotonya bisa diubah menjadi Ia membuka tas tempat ia menyimpan fotonya.

Menyusun kalimat memang mudah. Namun, perlu perhatian yang lebih banyak ketika kita hendak menulis kalimat yang kokoh. Apakah kalimat-kalimat yang kokoh seperti contoh-contoh di atas terkesan kaku? Saya rasa tidak. Perbanyak membaca, perbanyak menulis. Sesuatu yang berkualitas membutuhkan kesungguhan hati.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin