Veni, vidi, vici merupakan salah satu ungkapan terkenal dari Julius Caesar. Kalimat berbahasa Latin tersebut bermakna ‘Saya datang, saya lihat, saya taklukkan.’ Tidak ada kata hubung berupa dan, serta, bahkan atau dalam kalimat tersebut. Contoh kalimat lain yang setiap frasanya tidak dipisahkan oleh konjungsi ialah Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

Ungkapan ringkas dengan kata atau frasa berurutan tanpa kata sambung disebut asindeton. Dalam Kamus Linguistik Edisi Keempat (2009), asindeton dimaknai sebagai ‘penghilangan konjungsi dalam frasa atau klausa atau kalimat; mis. dalam kalimat Saya datang, saya melihat, saya menang.’ Sementara itu, kebalikan dari asindeton adalah polisindeton yang berarti ‘pemakaian konjungsi beberapa kali’. Contoh polisindeton ialah Kami tidak mempunyai dana dan tenaga dan saran dan kemauan” Dalam kalimat itu, konjungsi dan digunakan sebanyak tiga kali.

Beberapa sumber yang saya baca mengatakan bahwa asindeton dan polisindeton tergolong dalam majas. Namun, Gorys Keraf (2007) dalam Wahyuningsi (2016) telah menegaskan bahwa terdapat dua macam gaya bahasa, yakni gaya bahasa majas dan gaya bahasa retorik. Berdasarkan langsung atau tidaknya makna, gaya bahasa majas dapat mengubah makna sebuah kata secara drastis. Sementara itu, gaya bahasa retorik merupakan penyimpangan yang tergolong biasa demi tercapainya efek tertentu. Berdasarkan pemahaman Keraf, asindeton dan polisindeton termasuk dalam kategori gaya bahasa retorik.

Lantas, apa manfaat gaya bahasa retorik asindeton dan polisindeton? Agaknya, dua teknik ini lebih sering saya temui dalam karya sastra dan tulisan-tulisan jurnalistik. Bagi saya, asindeton menyisakan kesan puitis. Saya seperti sedang membaca sebuah puisi yang kadang kala tidak membutuhkan kata hubung. Pada lain sisi, polisindeton bisa menimbulkan efek satire atau penegasan. Dalam kalimat Kami tidak mempunyai dana dan tenaga dan saran dan kemauan, misalnya, jelas sekali bahwa sang kami tidak mempunyai apa-apa dan tidak bisa melakukan apa-apa.

#asindeton #polisindeton #gayabahasa

Rujukan:

  • Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Wahyuningsi, Endang. 2016. “Analisis Gaya Bahasa dalam Iklan Kampanye Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Tahun 2012”. Dalam Jurnal Menara Ilmu, Vol. X, Jilid 1, No. 72, November, hlm. 183–192. Sumatera: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Muhammadiyah. 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin