Teman-teman kuliah saya, sebagian besar, lahir dan besar di Jabodetabek. Mereka telah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia tanpa aksen yang terdengar asing di telinga. Maka, pada 2015, ketika seorang junior mengikuti kegiatan ospek dan memperkenalkan diri dengan logat Jawa Tengah, kami sedikit terkejut. Bahkan, tidak jarang kami tertawa.

Indonesia kaya akan bahasa daerah. Itulah yang selama ini kita banggakan. Namun, tanpa sifat kerendahhatian dan pengetahuan yang memadai, keragaman bahasa ini dapat menghadirkan ancaman, yakni diskriminasi linguistik. Apa itu?

Diskriminasi linguistik adalah perlakuan tidak adil kepada seseorang berdasarkan bahasa yang mereka gunakan, termasuk aksen atau dialek yang terdapat di dalamnya. Perlakuan tidak adil tersebut dapat tecermin lewat berbagai hal.

Dalam lingkungan kerja, misalnya, sebuah perusahaan di Indonesia hendak mendelegasikan pegawainya untuk berdinas ke Amerika Serikat. Seseorang yang begitu pandai di bidangnya, tetapi tidak cakap berbahasa Inggris, kemungkinan besar tidak akan diberangkatkan. Ditambah lagi, orang tersebut tidak bisa menyembunyikan gaya bahasa daerahnya.

Ini adalah salah satu contoh kecil diskriminasi linguistik, yaitu hilangnya kesempatan untuk bekerja dengan optimal.

Contoh lain diskriminasi linguistik adalah terpinggirkannya seseorang dari sebuah lingkungan sosial akibat penggunaan bahasa. Sejak dalam pikiran, kita terbiasa untuk menilai manusia berdasarkan cara berpakaian. Lebih dari itu, kita pun menghakimi cara mereka berbahasa.

“Kita cenderung menyukai atau tidak menyukai mereka meskipun kita hanya tahu sedikit tentang kepribadian mereka. Inilah yang saya sebut sebagai diskriminasi bahasa/linguistik: menghakimi bahkan mengutuk orang lain berdasarkan cara mereka berbahasa,” tulis Delfín Carbonell, linguis dan leksikografer asal Spanyol.

Contoh konkretnya, mungkin beberapa dari kita pernah bertemu seseorang yang tidak memiliki begitu banyak teman di sekolahnya karena perbedaan penggunaan bahasa. Secara tidak langsung, bahasa yang digunakan oleh mayoritas dalam sebuah lingkungan adalah simbol prestise.

Yang dapat dilakukan untuk meredam risiko negatif diskriminasi linguistik adalah dengan mengedepankan nilai-nilai keberagaman linguistik (linguistic diversity). Dalam tulisannya, Naia Toke menyatakan, “Kita harus mengizinkan orang lain menggunakan bahasa mereka; itulah hal yang paling etis untuk dilakukan. Kita tidak boleh membatasi atau melarang orang lain mengenai kepercayaan, adat istiadat, tradisi, dan budaya mereka.”

Inilah prinsip dasar keberagaman linguistik yang bertujuan menghargai setiap penutur bahasa.

Kembali pada cerita pada awal tulisan, apa yang saya dan teman-teman saya lakukan merupakan contoh diskriminasi linguistik. Tidak sepatutnya kami mentertawakan lawan bicara karena aksen, logat, atau dialek dalam berbahasa.

 

Rujukan:

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin