Tabik.

Manusia dan bahasa memiliki kedekatan yang tidak bisa dibantah. Untuk berkomunikasi, bahasa digunakan dengan berbagai tujuan spesifik, seperti menjalin atau mempertahankan relasi dengan orang sekitar, mengoordinasikan urusan pekerjaan, serta menuangkan kegelisahan hati dan pikiran. Artinya, bahasa menjadi kekuatan yang besar untuk memenuhi urusan manusia.

Sayangnya, manfaat itu sering kali tidak disadari. Bahasa seolah menjadi barang yang biasa, bahkan cenderung membosankan. Tidak ada perhatian khusus bagi bahasa. Sebagian besar orang bahkan mungkin merasa bahwa permasalahan bahasa hanya ada pada lingkup kebakuan kata.

Narabahasa, sebagai penyedia layanan dan produk kebahasaan, jelas menampik keadaan “tak peduli bahasa” tersebut. Dengan semangat melestarikan bahasa Indonesia, berbagai kelas publik dan griyaan telah digelar. Dengan sepenuh hati, Narabahasa juga menyadari bahwa pengajaran bahasa pun tak lantas berhenti di ruang kelas. Banyak sumber lain yang menyediakan ilmu pengetahuan yang penting bagi pengguna bahasa, salah satunya buku.

Meski “digempur” kemudahan teknologi dan kebaruan digital, buku tetap menjadi salah satu sumber pembelajaran tepercaya. Nara telah mengkurasi sejumlah buku kebahasaan dalam beberapa bulan terakhir. 

Bukan hanya buku-buku karya Ivan Lanin (Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris?, Recehan Bahasa: Baku Tak Mesti Kaku, dan Renjana: Basa-basi Bahasa), Nara juga memiliki sederet buku koleksi yang tidak kalah keren, antara lain, Aku Menulis Maka Aku Ada karya Kang Maman dan Perca-Perca Bahasa karya Holy Adib. Beberapa di antaranya sudah pernah dibahas secara khusus pada segmen Dibahas dan Diulas yang bisa Kerabat Nara simak pada kanal YouTube Narabahasa.

Buku-buku rekomendasi Nara sudah tersimpan rapi pada katalog Narabahasa di lokapasar, lo. Untuk membaca dan “mencuri” ilmu dari buku-buku rekomendasi Nara, Kerabat Nara bisa segera mengunjungi toko Nara di Tokopedia atau Shopee.

Nara tunggu ulasan buku dari Kerabat Nara, ya!