Tiba-tiba saya penasaran mengenai mengapa bahasa Betawi kental dengan alofon [e]. Contohnya adalah kata iye dan ape. Dalam bahasa Indonesia, kita menyebutnya iya dan apa. Mengapa dalam bahasa Betawi, pada kedua kata tersebut dan banyak kata lainnya, alofon [a] berubah menjadi [e]?

Ketika berbicara mengenai variasi bahasa, kita tidak mungkin lepas dari dialek. Ilmu yang mengkaji dialek namanya dialektologi, yakni cabang ilmu pengetahuan bahasa yang secara sistematis menangani berbagai kajian yang berkenaan dengan distribusi dialek atau variasi bahasa dengan memperhatikan faktor geografi, politik, ekonomi, dan sosial budaya. Dialek terbagi menjadi tiga, yakni

  1. dialek regional yang mengartikan variasi bahasa yang dipakai oleh kelompok bahasawan di tempat tertentu,
  2. dialek sosial yang berarti variasi bahasa yang dipakai oleh golongan tertentu dari suatu kelompok bahasawan, dan
  3. dialek temporal atau variasi bahasa yang dipakai oleh golongan tertentu dari suatu kelompok bahasawan.

Nah, kembali pada pembahasan mengenai dialek Betawi, salah satu buku penting yang membicarakan perkembangan bahasa Betawi adalah Bahasa Betawi: Sejarah dan Perkembangannya (2000) yang ditulis oleh Muhadjir. Muhadjir menyatakan bahwa salah satu ciri khas dialek Betawi adalah munculnya alofon [e] pada akhir kata yang memiliki alofon [a].

Yang menarik untuk diketahui, tidak semua alofon [a] berubah menjadi [e] dalam dialek Betawi. Dialek ini terbagi menjadi dua bagian, yakni subdialek Betawi Kota atau Betawi Tengah dan dialek Betawi Pinggiran atau Betawi Ora. Subdialek Betawi Kota mengucapkan rumah, saya, dan apa dengan rume, saye, dan ape. Sementara itu, subdialek Betawi Pinggiran mengucapkan tiga kata itu dengan rumah, sayah, dan apah.

Di luar itu, ada pula sederet diksi lain yang umum digunakan dalam dialek Betawi untuk mengganti kata tertentu. Misalnya, suka bisa berbunyi suke atau berganti bentuk menjadi demen. Pura-pura, selain bisa menjadi pure-pure, dapat diganti dengan belagak. Ada kata astaga yang sering berdiri dalam rupa bujug, kesal yang berganti gedeg, dan tidak yang berubah kagak.

Dalam tulisannya, Suzan Lesmana (2021) menyatakan bahwa Betawi Tengah lazim menggunakan iye, kagak, babeh, dan biarin. Sementara itu, untuk keempat kata tersebut, Betawi Pinggiran menggunakan iyak, ora, baba, dan bagen.

Betawi memiliki sejarah yang panjang. Diskusi mengenai muasal pertemuan berbagai suku di tanah ini tidak habis-habisnya dibincangkan. Tentu menarik untuk mempelajari sejarah dialek Betawi lebih jauh lagi. Bagaimana ceritanya alofon [a] dapat berubah menjadi alofon [e]? Lalu, mengapa sufiks -in dapat menjadi salah satu ciri khas dialek Betawi? Bagaimana sejarah pembentukannya? Namun, hingga detik ini, saya belum menemukan rujukan yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

 

Rujukan:

  • Alfianika, Ninit. 2016. “Bahasa Betawi dan Gaya Bahasa Repetisi dalam Ceramah Ustad Yusuf Mansur Program Wisata Hati di ANTV”. Dalam Jurnal Gramatika, Vol. 1, hlm. 110–122. Sumatra Barat: STKIP PGRI.
  • Erwantoro, Heru. 2014. “Etnis Betawi: Kajian Historis”. Dalam Jurnal Patanjala, Vol. 6, No. 1, hlm. 1–14. Bandung: Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. 
  • Jubaidah, Siti. 2020. “Dialek Betawi Jakarta”. Dalam Jurnal Tsaqôfah: Jurnal Agama dan Budaya, Vol. 18, No. 1, hlm. 1–11. Banten: UIN SMH.
  • Lesmana, Suzan. 2021. “Mau Pakai Dialek Betawi ‘Iye’ atau Betawi ‘Ora’? Ini Panduannya. Terminal Mulok #05”. Mojok.co. Diakses 24 September 2023.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin