Dalam istilah medis, dislokasi berarti perenggangan persendian pada patah tulang. Namun, dislokasi juga memiliki arti tersendiri dalam ranah bahasa Indonesia, khususnya pada konstruksi kalimat.

Dislokasi kiri adalah pemindahan unsur kalimat tertentu ke sebelah kiri, yaitu ke awal kalimat. Sekilas, konstruksi ini mirip dengan pengedepanan. Namun, dislokasi kiri memiliki perbedaan bahwa pemindahan unsur tersebut wajib meninggalkan jejak di tempat semula berupa pronomina. Mari kita lihat contoh di bawah ini.

  • Rumah Pak Garry berada di ujung jalan.
  • Pak Garry, rumahnya berada di ujung jalan. 

Pada kalimat 1, frasa nominal Pak Garry berhubungan dengan -nya pada kalimat 2. Berarti, -nya merupakan pronomina yang sebelumnya diisi oleh frasa nominal Pak Garry

Melalui proses dislokasi kiri, frasa nominal subjek yang bersifat takrif di awal kalimat juga dapat berfungsi sebagai topik. Dengan catatan, ada jeda yang relatif panjang di antara subjek dan predikat.

  • Orang itu bebas dari penjara bulan lalu. 
  • Orang itu, dia bebas dari penjara bulan lalu.

Pronomina dia merujuk pada orang itu. Terdapat jeda yang relatif panjang antara orang itu sebagai subjek dan bebas sebagai predikat. Pada contoh di atas pula, orang itu bersifat takrif atau sudah diketahui oleh pembaca dan pendengar. Berbeda dengan contoh sebelumnya, dislokasi kiri kali ini terjadi karena dia berdiri di tengah-tengah orang itu dan bebas.

Selain itu, dislokasi kiri juga dapat digunakan untuk memindahkan keterangan. Pemindahan tersebut kemudian meninggalkan jejak berupa frasa preposisional takrif pada sebelah kanan kalimat. 

  • a. Mereka bermain bola di lapangan merah. 
  1. Di lapangan merah, mereka bermain bola di sana.
  • a. Penghulu sudah datang pukul 07.30 WIB
  1. Pukul 07.30 WIB, penghulu sudah datang waktu itu.

Kedua contoh di atas meninggalkan jejak dislokasi kiri berupa frasa preposisional takrif di sana dan waktu itu.

Dislokasi kiri sering disamakan dengan pengedepanan (topikalisasi). Namun, ingat, dislokasi kiri memiliki kekhasan, yaitu meninggalkan jejak saat dipindahkan. Hal ini tidak terjadi pada konstruksi kalimat pengedepanan.

 

Rujukan:

Moeliono, Anton M., dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin