Kalimat deklaratif merupakan salah satu ragam kalimat berdasarkan klasifikasi sintaksis. Jenis kalimat ini dalam pemaparan Ramlan (Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis, 1987: 31) disebut juga sebagai kalimat berita yang berkaitan dengan hubungan situasional. Selain itu, Kridalaksana menuliskan bahwa kalimat deklaratif merupakan salah satu ragam kalimat berdasarkan amanat wacana. 

Pada umumnya, kalimat deklaratif memuat pernyataan dari penulis atau pembicara. Pembaca atau pendengar pun dapat menangkap informasi yang tertuang dalam kalimat deklaratif sebagai berita. Lebih dari itu, kalimat ini memiliki intonasi deklaratif yang lazim ditandai lewat pungtuasi titik dalam ragam tulis. Sementara itu, intonasi deklaratif dalam ragam lisan diwakili oleh nada ujaran yang merendah atau menurun. Berikut ini contoh kalimat deklaratif.

  • Saya melihat truk mogok di pinggir tol Cikampek.
  • Ada truk mogok di pinggir tol Cikampek.

Dua contoh di atas merupakan kalimat deklaratif. Keduanya pun disajikan dalam bentuk yang berbeda. Pada contoh pertama, kita bisa melihat kalimat aktif berpola subjek (saya), predikat (melihat), truk mogok (objek), dan keterangan (di pinggir tol Cikampek). Lalu, pada contoh kedua, kita membaca pola inversi dengan predikat (ada) yang mendahului subjek (truk). 

Selain itu, kalimat deklaratif juga bisa ditemukan lewat bentuk pengedepanan atau pemasifan seperti contoh di bawah ini.

  • Tadi pagi, segerombolan mahasiswa yang mengikuti balap liar ditangkap oleh polisi.
  • Dana untuk kesejahteraan masyarakat dikorupsi oleh pejabat.

Meskipun memiliki nama lain sebagai kalimat berita, bukan berarti jenis kalimat ini hanya dapat kita temui pada laras jurnalistik. Kalimat deklaratif pun sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Contohnya: Saya sangat lapar. Kalimat tersebut menyatakan informasi bagi siapa pun yang mendengar atau membacanya.

Barangkali, jika kita mengucapkan kalimat tersebut di hadapan teman atau orang terdekat, mereka akan segera menawarkan makanan atau mengajak kita untuk membeli makanan. Padahal, kita belum mengucapkan pertanyaan apakah ada makanan? atau perintah tolong beri saya makanan.

Namun, saya rasa, ujaran saya sangat lapar bisa mewakili sesuatu yang tidak terucapkan, yakni pertanyaan apakah ada makanan? atau permintaan tolong beri saya makanan. Kalimat pertanyaan disebut sebagai kalimat interogatif, sedangkan kalimat permintaan dinamai kalimat imperatif. Selanjutnya, kita akan mengupas keduanya pada artikel berikutnya.

 

Rujukan:

  • Kridalaksana, Harimurti, dkk. 1985. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Moeliono, Anton. M dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  • Ramlan, M. 1987. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: C.V. “Karyono”.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin dan Harrits Rizqi