Tidak dapat dimungkiri bahwa keterampilan bahasa–menyimak, membaca, menulis, dan berbicara–berperan penting dalam kehidupan kiwari. Kita bisa melihatnya pada wicara publik (public speaking), misalnya. Selain berfokus pada keterampilan berbicara, kegiatan itu juga mengandalkan kemampuan menyimak, membaca, dan menulis. Pembicara mesti pandai menangkap pesan dari berbagai wacana, baik lisan maupun tulisan. Ia pun sebaiknya terlebih dahulu menulis ide-idenya menjadi kerangka utuh agar penyampaiannya terstruktur. 

Di lingkungan internal Narabahasa, keterampilan bahasa dikembangkan melalui dua kegiatan rutin, yaitu Program Swalatih dan Belajar di Rumah. Program Swalatih merupakan kegiatan yang berfokus pada aktivitas membaca dan menulis. Tiap dua pekan sekali, para pramubahasa–sebutan bagi pegawai dan pemagang Narabahasa–mengumpulkan satu tulisan. Tulisan itu mulanya dari hasil membaca. Namun, seiring waktu, tulisan dapat berasal dari mana saja, termasuk kegelisahan hati. Sementara itu, Belajar di Rumah diadakan tiap Jumat sore. Dalam kegiatan itu, seorang pramubahasa melatih kemampuan berbicaranya melalui penyajian presentasi. Pada waktu yang sama, pramubahasa lain berlatih menyimak. 

Program Swalatih dan Belajar di Rumah tidak selalu lancar. Terkadang ada pramubahasa yang sulit mencari ide atau mengembangkan paragraf sehingga ia mengumpulkan tulisan seadanya atau tidak mengumpulkan sama sekali. Di sisi lain, saat Belajar di Rumah, penyaji juga kerap kesulitan memilih kata. Ada yang terbata-bata dan ada yang terburu-buru. Namun, hal itu dianggap wajar sebagai bagian dari pembelajaran. Yang penting tetap ada progres.

Sebagai pelengkap, Narabahasa mengadakan Temu Penyunting. Dalam kegiatan yang diadakan dua pekan sekali pada Selasa sore itu, tulisan dari Program Swalatih yang telah disunting Tim Produk Narabahasa dibedah lebih detail. Meskipun begitu, pernah suatu kali tulisan seorang pramubahasa disunting ketika Temu Penyunting berlangsung.

Tujuan Temu Penyunting ialah agar pramubahasa memahami gramatika dan ejaan sehingga tulisan mereka memenuhi kelengkapan wacana, keutuhan paragraf, keefektifan kalimat, kedayagunaan kata, dan ketertiban ejaan. Singkatnya, pramubahasa diberi bekal untuk menghasilkan tulisan yang enak dibaca. Selain itu, bagi Tim Produk, Temu Penyunting mendidik mereka agar mempunyai dasar atau alasan yang kuat untuk tiap suntingan. Menyunting tidak berarti asal memotong kalimat atau mengganti kata, bukan? 

Menurut saya, kegiatan-kegiatan di atas dapat diterapkan di kantor mana pun. Mungkin ada kantor yang telah memiliki cara tersendiri dalam mengembangkan keterampilan bahasa para pegawainya. Namun, untuk yang belum, tiga kegiatan di atas boleh dicoba. 

Kuncinya hanya satu, yakni kedisiplinan. Sebagus apa pun konsepnya, tanpa kedisiplinan, suatu kegiatan tidak akan ada gunanya. Terlebih, keterampilan bahasa tidak dapat sekali jadi. Ia mesti dilatih berkali-kali, bahkan ketika seseorang telah mencapai level mahir. Bukankah kemahiran juga bisa menumpul jika tidak terus diasah?

Penulis: Harrits Rizqi

Penyunting: Dessy Irawan