“Paragraf merupakan miniatur dari suatu karangan,” begitu tulis Suladi (2015). Dalam cerpen atau novel, kita bertemu dengan paragraf. Dalam karangan ilmiah, artikel, esai, dan sebagainya, kita pun berhadapan dengan paragraf. Setiap paragraf memiliki gagasan yang saling melengkapi. Lewat miniatur-miniatur inilah, suatu wacana dapat berdiri dengan utuh.

Kita mungkin sudah tahu bahwa setiap kalimat dalam paragraf sebaiknya saling berkaitan. Dengan begitu, alur dan tempo tulisan dapat terjaga dengan baik. Berkat keterkaitan antarkalimat pula, hubungan sebab-akibat bisa dibangun dan makna tulisan bisa dicerap. Namun, tugas kita sebagai penulis tidak berhenti di situ. Setelah berhasil menciptakan kesinambungan antarkalimat, tantangan berikutnya adalah membuat kebertautan dari paragraf-paragraf yang ada.

Kaitan antara setiap paragraf dapat disebut sebagai kohesi antarparagraf. Ada pula yang menyebutnya perekat paragraf dan transisi antarparagraf. Ingat, transisi antarparagraf jangan disamakan dengan paragraf transisi. Paragraf transisi adalah satu paragraf yang berdiri sebagai jembatan bagi paragraf selanjutnya. Sementara itu, menurut Richard Nordquist—seorang ahli retorika dan bahasa Inggris—transisi antarparagraf adalah unsur yang berperan dalam koherensi dan kohesi antarparagraf. Transisi ini biasanya terletak di awal dan akhir sebuah paragraf.

Saya belum menemukan buku atau jurnal berbahasa Indonesia yang mengungkap transisi antarparagraf dan kiat-kiat menggunakannya. Kebanyakan sumber yang saya baca hanya membahas jenis-jenis, struktur, dan pola pengembangan paragraf. Namun, artikel ringkas dari Nordquist yang berjudul “Paragraph Transition: Definition and Examples” bisa membawa kita untuk mengenal transisi ini.

Selain itu, Monmouth University juga pernah mengeluarkan sedikit panduan mengenai transisi. Berdasarkan fungsinya, ada jenis-jenis transisi antarparagraf yang dapat digunakan supaya tulisan kita memiliki alur yang mengalir dan enak dibaca. Panduan tersebut menggunakan contoh kata dan frasa berbahasa Inggris. Saya mencoba menyesuaikannya ke dalam bahasa Indonesia melalui tabel berikut.

No. Fungsi Contoh Kata atau Frasa
1. Tambahan Selain itu, sementara itu, di luar itu, ditambah lagi, lebih dari itu, dan bahkan
2. Pengecualian Meskipun begitu, akan tetapi  kendati demikian, sementara itu, biarpun, dan walaupun
3. Akibat atau hasil Alhasil, akibatnya, dan dengan demikian 
4. Perbandingan Di luar itu, akan tetapi, sebaliknya, dan di lain sisi; serta sama seperti, layaknya, dan serupa dengan
5. Perincian Lebih lanjut lagi
6. Penekanan Berarti dapat disimpulkan dan tidak dapat dimungkiri
7. Percontohan atau ilustrasi Contohnya dan misalnya
8. Posisi Di atas, pada paragraf pertama, dan pada contoh sebelumnya
9. Waktu Seiring dengan berjalannya waktu, lambat laun, lama-kelamaan
10. Sugesti Atas dasar dan berdasarkan 
11. Kesimpulan Pada akhirnya, akhir kata, dapat dikatakan

Kemudian, Ivan Lanin dalam “Memadukan Paragraf” juga telah memaparkan sedikit mengenai alat-alat kohesi antarparagraf yang dapat digunakan. Konjungsi sangat mungkin dimanfaatkan untuk menjembatani paragraf-paragraf yang tengah kita susun. Di luar itu, pengulangan satuan bahasa (kata, frasa, klausa, kalimat kunci, dan kalimat perangkai lainnya) juga dapat disertakan untuk membangun jembatan antaralinea. Bahkan, paragraf transisi pun bisa berdiri sebagai kohesi ini.

Saya rasa jenis perangkat kohesi atau transisi antarparagraf tidak terbatas pada contoh-contoh di atas saja. Sifatnya pun tidak saklek. Mereka fleksibel dan saling melengkapi. Ambillah contoh frasa di luar itu. Ia bisa menduduki fungsi tambahan dan perbandingan. Akan tetapi bisa berfungsi sebagai pengecualian dan perbandingan. Semuanya bergantung pada gagasan yang hendak kita utarakan.

 

Rujukan:

  • Lanin, Ivan. 2020. “Memadukan Paragraf”. Diakses pada 26 April 2021.
  • Monmouth University. “Transitions”. Diakses pada 26 April 2021.
  • Nordquist, Richard. 2020. “Paragraph Transition: Definition and Examples”. Diakses pada 26 April 2021.
  • Suladi. 2015. Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Paragraf. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin