Pada Mei 2016, seorang dosen berkacamata dan berkulit cerah berdiri gagah di hadapan tiga puluh mahasiswa S-1. Sesekali beliau meneguk air infusan dari tumbler yang tidak pernah luput dibawanya. Mulutnya tampak lancar menjelaskan ihwal mata kuliah yang tengah diampunya. Pandangannya begitu tulus, sedangkan pandangan saya begitu samar. Saya lupa apa yang terjadi selama tiga puluh menit setelahnya. Yang saya ingat, saya dibangunkan oleh teman yang duduk di sebelah. Sontak saya terperanjat dan lekas melihat ke arah beliau. Ternyata, beliau pun melihat balik ke arah saya dan tersenyum. 

Saya menunggu beliau memarahi saya karena tertidur saat kelasnya berlangsung. Namun, amarah itu tiada pernah saya dapatkan hingga saya menerima kabar kepulangan beliau ke rumah-Nya pada 16 Agustus 2021. Beliau adalah Totok Suhardijanto, Ph.D. Saya kerap memanggilnya dengan sapaan Pak Totok. Kini, saya perlu menambahkan keterangan almarhum pada nama beliau. 

Dua tulisan saya sebelum ini berbicara tentang korpus. Satu tokoh yang selalu terbayang dalam kepala saya saat menulis kedua artikel tersebut ialah beliau. Saya merupakan salah satu dari sekian banyak orang di Indonesia yang menaruh harapan besar terhadap beliau. Dalam kepala saya seolah sudah terpasang konsep bahwa beliaulah yang akan menghasilkan mahakarya besar bagi perkembangan korpus Indonesia. Beliau pula yang saya harap bisa mewujudkan korpus bahasa yang besar dan lengkap. 

Linguistik korpus merupakan salah satu dari sekian banyak spesialisasi ilmu beliau. Jika meramban untuk mengetahui bidang kepakarannya, Kerabat Nara hanya akan mendapat kebingungan karena banyak sekali bidang ilmu yang beliau geluti. Hal itu pulalah yang sempat dituturkan Ibu Multamia Lauder pada malam kami mengenang dan mendoakan kepulangannya, 18 Agustus 2021. “Totok itu kesulitan memilih bidang kepakarannya,” ujar Bu Mia.

Selain linguistik korpus, ada spesialisasi lain ilmu beliau, antara lain, linguistik komputasi,  neurolinguistik, fonologi, morfologi, sintaksis, linguistik historis, pengajaran bahasa kedua, komputasi budaya, komputasi evolusioner, dan pelokalan bahasa. Semuanya diborong tanpa ampun. Ilmu-ilmu yang beliau pelajari (dan dalami) mencakup tiga kelompok berbeda, mulai dari linguistik umum, linguistik terapan, hingga linguistik interdisipliner. Pernah tebersit dalam benak saya perihal cara beliau mengatur waktu untuk ragam pekerjaan yang berbeda-beda. Rasa penasaran tersebut cukup terjawab oleh istri beliau, Indah Kusumawati, yang mengungkapkan bahwa ia kerap cemburu dengan pekerjaan-pekerjaan Pak Totok. 

Selama 33 tahun menggeluti bidang bahasa, sejak memulai studi di FSUI pada 1988 sampai sekarang, banyak sekali karya yang beliau wujudkan, baik untuk almamater maupun untuk Indonesia, baik untuk publikasi nasional maupun internasional. Usai mendapatkan gelar sarjana pada 1991, beliau melanjutkan studi S-2 Ilmu Linguistik pada 2000. Pada 2008 sampai 2012 beliau pergi ke Jepang untuk melanjutkan studi S-2 dan S-3 Information Processing di Keio University, Jepang. Di situlah gelar Ph.D. beliau dapatkan dengan fokus penelitian pada penanganan dan pengelolaan objek budaya yang berbasis data dan komputasi. 

Usai meraih gelar doktor tersebut, beliau kembali ke ibu pertiwi dan menjadi pengajar tetap di Departemen Linguistik UI sampai kepergiannya. Pada 2013 sampai dengan 2015 beliau bekerja di Google menjadi Project Manager Google Asia Pacific. Kala itu, beliau membangun Google Voice Search untuk bahasa Indonesia. Pada 2014, beliau diberi amanah untuk menjadi koordinator Asosiasi Pengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (APBIPA) wilayah Jakarta Raya. Lalu, pada 2018, beliau bergabung dengan perusahaan rintisan yang bergerak dalam bidang kecerdasan buatan, Prosa.ai, sebagai konsultan linguistik. Tahun lalu beliau baru saja dilantik menjadi Ketua Indonesian Associaton for Computational Linguistics (INAL) dengan masa jabat semestinya sampai 2022. Terakhir, pada 2020, beliau juga dilamar oleh Ivan Lanin untuk berpartner mengembangkan aplikasi pengecek tata bahasa dan ejaan Narabahasa. 

Sebagai pakar banyak bidang ilmu linguistik, sumbangsihnya begitu besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Sebagai dosen, kehadirannya begitu berarti terhadap kepercayaan diri dan kelulusan mahasiswanya. Pernah pada suatu hari, entah iseng entah disengaja, beliau (dan Ibu Dien Rovita) meminta agar saya menjadi penulis pertama untuk dua jurnal internasional yang penelitiannya kami lakukan bersama. Beliau berjanji akan mendampingi dan mendoakan. Tuhan berkehendak serupa sehingga jurnal kami diterima untuk dipublikasikan dan dipresentasikan. Mungkin bagi beliau itu biasa, tetapi bagi saya itu merupakan titik tumbuhnya kepercayaan diri saya dalam menulis dan meneliti.

Kepulangannya menyisakan banyak kekhawatiran, perihal nasib proyek-proyek kebahasaan yang sedang digarapnya, perihal pengembangan ilmu linguistik Indonesia, dan lain-lain. Saat menyaksikan banyak sekali yang melangitkan doa atas perjalanan pulangnya, saya menyadari bahwa beliau berhasil membumikan ilmu pengetahuan. Janji baktinya terhadap linguistik Indonesia sudah dicukupkan oleh Yang Maha Esa pada 16 Agustus 2021, pukul 05.20 WIB. Kini beliau sudah beristirahat dengan tenang dan terkenang sebagai tokoh bahasa yang patut kita tiru kegigihannya.  

 

 

Penulis: Dessy Irawan

Penyunting: Ivan Lanin