Bagaimanapun, perkembangan bahasa tidak dapat dilepaskan dari fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Setiap harinya, kita bergumul dengan tren. Banyak film, lagu, dan buku dari berbagai macam latar budaya yang kita serap. Kita bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda dan setiap mereka membawa referensi yang berbeda pula.

Tentu saja, setiap regional memiliki ciri khasnya masing-masing, begitu pun dengan cara masyarakatnya dalam berbahasa. Di daerah tempat saya tinggal, Jakarta Selatan, ada satu fenomena bahasa yang sempat marak diperbincangkan, yakni fenomena “Bahasa Jaksel”. Setidaknya, tiga kebiasaan di bawah ini dapat menjadi ciri Bahasa Jaksel.

  1. Campur dan Alih Kode 

Campur dan alih kode atau bahasa gado-gado merupakan kebiasaan yang sering diterapkan oleh masyarakat Jakarta Selatan. Kushartanti, dosen Linguistik di Universitas Indonesia, mengatakan bahwa lingkungan dan pembangunan di Jakarta Selatan yang sebagian besar dihuni oleh masyarakat bergolongan menengah ke atas menjadi faktor penting dalam fenomena bahasa campuran. Contoh yang kerap kali saya jumpai adalah pencampuran bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, seperti which is, as in, by the way, atau in the end.

       2. Akronimisasi

Selain percampuran bahasa, ada pula pembentukan akronim yang kerap saya dengar dari teman-teman sebaya, seperti manjiw, mantul, dan baper. Saya pun sering menggunakan contoh-contoh tersebut demi kemudahan berkomunikasi. Di luar itu, terkadang akronim-akronim tersebut merupakan lambang keakraban.

      3. Bahasa Terbolak-balik

Kata yang diucapkan lewat huruf yang terbalik termasuk ke dalam metatesis bahasa, yakni perubahan letak huruf, bunyi, atau suku kata dalam kata (Kridalaksana, 1984: 123). Contoh metatesis bahasa yang sering terjadi di Jakarta Selatan, antara lain kuy, sabeb, dan alig.

Bahasa Jaksel merupakan fenomena yang terjadi dalam konteks ragam lisan nonformal. Apakah campur dan alih kode, akronimisasi, dan metatesis bahasa merupakan suatu kebiasaan yang bisa membawa dampak buruk terhadap bahasa Indonesia? Saya rasa tidak, selama para penggunanya masih menggunakan mereka dalam konteks yang sesuai. Apakah penggunaan Bahasa Jaksel mencerminkan kadar intelektualitas seseorang? Jika ada individu atau sekelompok orang yang menggunakan Bahasa Jaksel, saya barangkali bisa menebak dengan siapa mereka berinteraksi dan lingkungan seperti apa yang mereka naungi. Namun, menurut saya, hal tersebut tidak serta-merta menunjukkan kadar intelektualitas mereka.

Rujukan:

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Dessy Irawan