Tabik.

Kami yakin, banyak dari Kerabat Nara yang berkecimpung di dunia pendidikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, misalnya menjadi guru, dosen, atau tenaga kependidikan di lingkungan akademik. Secara tidak langsung, misalnya menjadi pemerhati bahasa, salah satunya dengan mengikuti Narabahasa. 

Kerabat Nara, ternyata memiliki keterampilan berbahasa di lingkungan akademik sangatlah penting, lo, khususnya untuk tenaga pendidik. Dengan menguasai keterampilan berbahasa, baik menyimak, berbicara, menulis, maupun membaca,  penyampaian pesan di lingkungan akademik akan dapat dilakukan dengan maksimal. 

Kemampuan berbicara adalah kemampuan berbahasa yang disampaikan secara lisan. Ketika berbicara, kita dapat menyampaikan pesan secara langsung kepada mitra tutur. Kemampuan menyimak juga diperlukan agar kita dapat memahami informasi dan pesan yang ingin disampaikan orang lain. Kedua kemampuan berbahasa ini wajib dikuasai tenaga pendidik dan kependidikan di lingkungan akademik, di samping kemampuan menulis dan membaca.

Sebagai seorang tenaga pendidik, kemampuan menyampaikan pengetahuan yang dimiliki menjadi bekal utama agar pengetahuan tersebut sampai ke peserta didik. Begitu juga dengan tenaga kependidikan, walaupun tidak langsung berinteraksi dengan peserta didik saat proses belajar mengajar. Keterampilan berbahasa, khususnya berbicara dan menyimak, sangat diperlukan agar proses komunikasi di lingkungan akademik dapat berlangsung dengan baik.

Beberapa hari lagi, kita akan menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei. Sebagai tenaga pendidik atau kependidikan, kami yakin, Kerabat Nara pasti sudah berperan banyak dalam upaya memajukan pendidikan di Indonesia. 

Pertanyaannya, sudahkah peran kita maksimal?