Saya pernah membaca satu tulisan yang sangat memukau. Tulisan ini berjudul “Cantik”, digubah oleh Ariel Heryanto dan dipublikasikan dalam Harian Kompas pada 14 September 1997. Ceritanya, Bumi kedatangan tamu-tamu terhormat dari planet lain. Penduduk Bumi pun mengadakan penyambutan yang mewah. Stasiun televisi dan rumah produksi film dikabarkan berlomba-lomba untuk mendapatkan akses prioritas pada kunjungan tersebut. Pabrik sepatu, kemeja, parfum, dan minuman juga bersaing untuk menjadi sponsor acara penyambutan.

Setelah tiba dan berkeliling, para tamu dari planet lain terheran-heran sebab manusia di Bumi hanyalah laki-laki. Ternyata, menurut penduduk Bumi, perempuan dan anak-anak tinggal di rumah demi alasan keamanan. Para tamu masih kebingungan. “Terus terang kami masih tak paham. Kalau di planet kami ada binatang yang buas dan berbahaya bagi umum, yang dikurung adalah binatang itu. Bukan korbannya,” tutur salah satu tamu dari planet lain.

Karangan tersebut, bagi saya, mencerminkan permasalahan kekerasan seksual. Para korban lebih sering disalahkan, sedangkan pelakunya bebas berkeliaran, bahkan sesekali mendapatkan pembelaan. Sang penulis menyampaikan maksud tersebut dengan cerita yang sangat baik.

Tulisan seperti itu tergolong sebagai anekdot. Dalam kamus, anekdot adalah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya. Richard Nordquist (2018) menyatakan bahwa anekdot merupakan ilustrasi yang mencerminkan istilah “a picture is worth a thousand words”. 

Coba perhatikan contoh anekdot lain yang saya kutip dari Modul Pembelajaran SMA Bahasa Indonesia keluaran Kemdikbud pada 2020.

 

Obrolan Para Presiden di Dalam Pesawat

 

Karena begitu bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur untuk berkeliling dunia.

Seperti biasa, setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya. Tidak lama Presiden Amerika, Bill Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata,”Wah kita sedang berada di atas New York!”

Presiden Indonesia (Gus Dur): “Lho kok bisa tahu sih?”

“Ini patung Liberty kepegang!” jawab Bill Clinton dengan bangganya.

Tidak mau kalah, Presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar pesawat.

“Tahu tidak, kita sedang berada di atas Kota Paris!” katanya dengan sombongnya.

Gus Dur: “Wah, kok bisa tahu juga?”

“lni menara Eiffel kepegang!” sahut Presiden Perancis tersebut.

Karena disombongi oleh Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat.

“Wah … kita sedang berada di atas Tanah Abang!” teriak Gus Dur.

“Lho kok bisa tahu sih?” tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa melihat.

“Ini jam tangan saya hilang,” jawab Gus Dur kalem.

 

Anekdot memang dianggap juga sebagai karangan yang sarat sindiran terhadap suatu fenomena. Wardani, Rustono, dan Nuryatin (2017) dalam penelitiannya menulis, “Anekdot selalu dikaitkan dengan tanggapan terhadap fenomena sosial. Sebuah anekdot merupakan sarana penyampaian pesan dan kritikan terhadap fenomena sosial melalui kemasan cerita lucu namun sarat makna.” Anekdot “Obrolan Para Presiden di Dalam Pesawat” mengilustrasikan fenomena percopetan di Tanah Abang.

Apabila diingat-ingat, sebetulnya anekdot bukanlah teks yang betul-betul asing. Kita pernah mempelajarinya di bangku sekolah, barangkali ketika berada pada jenjang SMP atau SMA. Namun, saat ini, karya anekdot agaknya kalah pamor dari cerpen. Barangkali juga, tulisan-tulisan nonfiksi lebih diminati pembaca. Sekarang cukup sulit untuk menemukan karya anekdot, baik di media massa maupun buku. Padahal, anekdot–menurut saya–merupakan sebuah wadah yang dapat mengemas kritikan dengan elegan dan menghibur.

 

Rujukan:

  • Heryanto, Ariel. “Cantik”. Diakses pada 17 Maret 2022.
  • Nordquist, Richard. 2018. “What Is An Anecdote?”. ThoughtCo. Diakses pada 17 Maret 2022.
  • Permatasari, Indri Anatya. 2020. Modul Pembelajaran SMA Bahasa Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
  • Wardani, Endah Dyah, dkk. 2017. “Analisis Teks Anekdot Bermuatan Karakter dan Kearifan Lokal sebagai Pengayaan Bahan Ajar Bahasa Indonesia di SMA”. Dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 6, No. 2, hlm. 68–77. Universitas Negeri Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin