Kemarin, ketika berselancar di Twitter, saya melihat sebuah tautan berita. Judulnya “Bupati Minta Dikelola Maksimal 92 Desa Penerima BKK 2021”. Mata saya yang tiap hari ditempa dengan pekerjaan meninjau tulisan pun segera menangkap kejanggalan pada judul tersebut. Berbagai pertanyaan muncul di dalam pikiran saya. Apakah benar, ada seorang bupati yang meminta dikelola maksimal oleh puluhan desa? Bukankah mengelola bupati itu pekerjaan yang sangat sulit, bahkan mustahil? Bagaimana caranya? Bukankah mengelola diri sendiri saja sudah pelik minta ampun?

Saya kira, ambiguitas demikian kerap kita jumpai di mana pun. Judul atau isi berita juga tidak terlepas dari masalah ambiguitas. Coba ikuti akun Instagram salah seorang dosen saya semasa kuliah, Ibnu Wahyudi, yang bernama pengguna @iben.wah. Beliau sering membagikan kelucuan-kelucuan penulisan pada berita, termasuk soal kalimat yang ambigu.

Nah, kebetulan hari ini saya membaca buku Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Penulisnya Soenjono Dardjowidjojo. Pada halaman ke-75, ia mulai membahas hal ambiguitas, sesuatu yang baru saya jumpai kemarin.

Menurutnya, terdapat dua macam ambiguitas, yaitu ambiguitas leksikal dan ambiguitas gramatikal. Ambiguitas leksikal adalah “macam ambiguitas yang penyebabnya adalah bentuk leksikal yang dipakai”. Dalam keterangannya lebih lanjut, disebutkan bahwa tidak banyak ambiguitas jenis tersebut dalam bahasa Indonesia.

Sebagai contoh ambiguitas leksikal, kita dapat menggunakan kalimat Ia menginginkan hak. Kata hak mempunyai berbagai makna. KBBI V mencatat setidaknya ada empat makna kata tersebut, yaitu ‘kewenangan’, ‘telapak sepatu pada bagian tumit yang relatif tinggi’, ‘alat untuk merenda (yang ujungnya berkait) dibuat dari logam’, dan ‘logam berkait (sepasang) untuk mengancingkan pinggang celana atau baju perempuan’. Jadi, hak yang mana?

Sementara itu, ambiguitas gramatikal adalah “macam ambiguitas yang penyebabnya adalah bentuk struktur kalimat yang dipakai”. Dardjowidjojo mencontohkan ambiguitas tersebut dengan kalimat Pengusaha wanita itu kaya. Menurutnya, kalimat itu ambigu karena frasa pengusaha wanita dapat berarti ‘pengusaha yang berjenis kelamin wanita’ atau ‘pengusaha yang mendagangkan wanita’.

Bahasa Indonesia mengenal hukum D-M (diterangkan-menerangkan). Jika mengacu pada hukum itu, kata wanita pada frasa di atas berfungsi menerangkan kata pengusaha. Maka, makna yang tercipta adalah ‘pengusaha yang mendagangkan wanita’. Kita dapat membandingkannya dengan frasa lain, seperti pengusaha teknologi dan pengusaha mebel. Agar tidak ambigu, frasa pengusaha wanita dibalik menjadi wanita pengusaha.

Ambiguitas gramatikal sendiri dibagi menjadi dua, yaitu ambiguitas sementara (local ambiguity) dan ambiguitas abadi (standing ambiguity). Ambiguitas sementara berarti fungsi sintaktis suatu bentuk leksikal berstatus ambigu sampai ia mendapat kata-kata tambahan yang memperjelas. Contohnya adalah kalimat yang sudah saya tulis di atas, Ia menginginkan hak. Kalimat itu akan tetap ambigu sampai ia diberikan tambahan penjelas. Misalnya, tambahan keterangan atas tanah nenek moyangnya akan membuat pembaca paham bahwa hak yang dimaksud adalah ‘kewenangan’.

Lain ambiguitas sementara, lain pula ambiguitas abadi. Contoh kalimat berambiguitas abadi adalah Istri dosen yang baru itu pergi berlibur. Siapakah yang pergi berlibur? Istri dari dosen yang baru atau istri baru dari seorang dosen? Kalimat itu masih tetap ambigu meskipun sudah sampai kata terakhir.

Untuk mengakhiri ambiguitas dalam sebuah kalimat, kita dapat menggunakan tanda hubung (-). Tanda hubung memperjelas maksud yang hendak disampaikan. Misalnya, untuk menyampaikan makna ‘istri dari dosen yang baru itu pergi berlibur’ pada contoh sebelumnya, tanda hubung diletakkan antara kata dosen dan yang serta yang dan baru sehingga menjadi Istri dosen-yang-baru itu pergi berlibur.

Berdasarkan penjelasan demikian, saya dapat menyimpulkan bahwa kekritisan sangat diperlukan oleh kita, baik dalam membuat maupun memaknai sebuah kalimat, agar terhindar dari ambiguitas. Oleh karena itu, jika ada yang berkata Kamu adalah pacarku yang paling cantik/tampan, sebaiknya Anda tidak lekas merasa senang. Siapa tahu ada pacar lain yang tidak cantik/tampan, tetapi paling kaya.

 

Rujukan:

  • Dardjowidjojo, Soenjono. 2018. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Cet. VIII. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Penulis: Harrits Rizqi

Penyunting: Ivan Lanin