Kerabat Nara mungkin sudah tahu bahwa -kan merupakan salah satu sufiks dalam bahasa Indonesia. Biasanya, sufiks itu digunakan untuk membentuk kata kerja. Sementara itu, ada pula sufiks –an yang dapat membentuk kata benda. Coba perhatikan contoh berikut.

  1. Gerakkan tanganmu.
  2. Gerakan tanganmu.

Pada contoh pertama, imbuhan yang digunakan adalah –kan. Kalimat tersebut mengisyaratkan perintah kepada sang kamu untuk menggerakkan tangannya. Pada lain sisi, kalimat kedua mendapatkan imbuhan -an. Kata gerakan bermakna ‘perbuatan atau keadaan bergerak (air, laut, mesin)’. Dengan demikian, kalimat kedua bukanlah sebuah perintah, melainkan sebuah deskripsi yang bisa saja belum selesai. Barangkali, kalimat tersebut dapat dituntaskan menjadi “Gerakan tanganmu begitu lihai.”

Contoh lainnya adalah kata masuk yang bisa diakhiri dengan sufiks -kan dan -an. Masuk sebagai verba intransitif akan berubah menjadi verba transitif ketika diberi imbuhan -kan.

  1. Masukkan baju kotormu ke dalam keranjang pakaian.
  2. Segera masukkan motormu ke dalam garasi.

Namun, apabila ditutup dengan imbuhan -an, kata masuk akan beralih menjadi nomina. Masukan mengartikan ‘hasil memasukkan; apa-apa yang dimasukkan’. Pada kalimat pertama di atas, apa-apa yang dimasukkan adalah baju kotor. Kemudian, pada kalimat berikutnya, apa-apa yang dimasukkan adalah motor.

Saya punya satu contoh lain yang menarik. Salah satu makna masukan adalah ‘komentar, saran, dan sebagainya yang diberikan untuk suatu kelompok’. Suatu hari, ketika sedang mengikuti evaluasi kinerja di kantor, saya memasukkan masukan kepada seorang kolega melalui sebuah formulir. Apa balasan yang sebaiknya dituliskan oleh rekan kerja saya?

  1. Wah, terima kasih, Yudhis. Masukan darimu sungguh menyadarkan saya.
  2. Wah, terima kasih, Yudhis. Masukkan darimu sungguh menyadarkan saya.

Coba jawab dan tuliskan alasannya di kolom komentar, ya, Kerabat Nara!

#imbuhan #sufiks 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin