Suatu kali saya pernah membaca artikel yang menyatakan bahwa menulis itu mudah. Di dalamnya terdapat beberapa kiat, seperti menentukan topik, menyusun kerangka, dan menguraikan gagasan. Namun, benarkah menulis itu mudah sekalipun kita sudah mengetahui kiat-kiatnya? 

Saya sendiri masih kerap terbata-bata dalam menulis meskipun telah beberapa kali mengikuti bincang-bincang kepenulisan. Permasalahan yang saya alami beragam, mulai dari membuat kalimat pertama yang sekiranya menarik, menghubungkan paragraf agar tulisan mengalir, hingga mencari jalan keluar untuk mengatasi kebuntuan. Belum lagi ada distraksi dari ponsel yang begitu mengganggu.

Ketika masalah tersebut terjadi, saya kadang mengambil jeda, berharap supaya wahyu ajaib datang melancarkan. Akan tetapi, yang ditunggu tidak kunjung datang. Kemalasan pun lebih cepat berkuasa. Semangat menulis perlahan padam. Alhasil, tulisan terbengkalai begitu saja.

Lama-lama saya berpikir bahwa mungkin menulis itu memang tidak mudah dan kenyataan itu harus saya terima. Terlebih, pada salah satu episode Kinara (Kicauan Narabahasa), Dee Lestari, salah satu penulis kondang Indonesia, mengungkapkan bahwa ia juga pernah menghadapi kebuntuan menulis (writer’s block).

Dari situlah saya memiliki keyakinan bahwa menulis, sesulit apa pun, sebaiknya dinikmati saja. Salah satu cara menikmatinya adalah dengan tidak terburu-buru. Tentu hal itu dikecualikan untuk beberapa orang, misalnya wartawan yang kejar tayang. Namun, secara umum, untuk menghasilkan tulisan yang baik—setidaknya enak dibaca, seorang penulis tidak boleh grasah-grusuh.

Lantas, karena terlalu sering menemui hambatan, saya pun makin menyadari bahwa justru kesulitan itulah sisi asyik menulis. Kesulitan membuat saya berkembang. Ia menuntut saya untuk menemukan bentuk terbaik. Kata-kata yang saya pilih mesti tepat sehingga tulisan itu punya nyawa. Alur tulisan yang saya susun juga tidak boleh asal, kecuali untuk disimpan sendiri—itu pun kalau saya mau dan kuat membacanya.

Selain itu, kesulitan dalam menulis juga membuat saya makin mengapresiasi para penulis beserta karya-karyanya, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Fyodor Dostoevsky dengan novel-novel mereka yang menyentuh serta Ebiet G. Ade dan Cholil Mahmud dengan lirik-lirik lagu mereka yang indah. Bahkan, saya juga mengagumi takarir komedik yang ditulis oleh akun @comikamedia di Instagram. 

Sambil menghayati sisi positif dari kesulitan dalam menulis, saya pun tidak lupa untuk belajar dari orang lain. Saya mendengarkan pengalaman kepenulisan beberapa tokoh melalui Ruang Dengar Nara, sebuah siniar (podcast) dari Narabahasa. Kerabat Nara juga dapat menyimaknya secara gratis, lo. Siniar tersebut tersedia di Spotify.