“Kurukurukuru”, “Inyak”, dan “Ndrenges”

Akhir bulan lalu, saya meninggalkan indekos yang sudah saya tinggali selama dua tahun. Tentu, kenangan-kenangan muncul tanpa ampun. Salah satunya berwujud kata: kurukurukuru. Apakah itu? Jelas, Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak—atau bisa jadi belum—memuatnya. Sebabnya, kata tersebut berasal dari anak ibu-indekos-saya.

Saya biasa memanggilnya Mbak N. Suatu siang, saya mendengar kurukurukuru diteriakkan. Sebagai orang yang baru mendengar kata itu, saya penasaran dan segera mendekat ke sumber suara. Kebetulan kamar saya berada di tingkat kedua. Dari atas, saya melihat Mbak N sedang mengentas jemuran. Tidak lama setelah itu, para tetangga sekitar melakukan hal yang sama.

Sejak hari itu, saya rajin mengamati penggunaan kurukurukuru. Bulan-bulan berlalu dan saya menyimpulkan sesuatu. Kurukurukuru selalu diteriakkan Mbak N ketika awan gelap mulai menyelimuti atau gerimis/hujan tiba-tiba turun ke bumi. Selanjutnya, ia akan mengentas jemurannya. Para tetangga pun melakukan hal serupa. Oleh karena itu, saya mengartikan kurukurukuru sebagai ‘kata yang diucapkan dengan maksud menyelamatkan jemuran ketika awan gelap, gerimis, atau hujan datang’.

Saya kemudian teringat kata lain: inyak. Kata tersebut saya dengar ketika saya masuk ke suatu perkumpulan semasa SMA. “Inyak ra dijak (inyak tidak diajak)?” kata seorang anggota. Seperti kurukurukuru, saya penasaran akan arti kata inyak. Saya amati betul-betul penggunaannya. Kata itu biasa muncul ketika perkumpulan tadi sedang memperbincangkan seseorang. Siapakah inyak?

Beberapa hari kemudian saya pun mendapatkan pencerahan. Inyak sering disebut ketika terjadi pembahasan seputar pacar atau gebetan. Akan tetapi, inyak pasti bukan nama seseorang karena itu digunakan untuk menyebut orang-orang yang berbeda. Tidak mungkin beberapa orang dalam perkumpulan itu mempunyai pacar yang sama-sama bernama Inyak. Jadi, saya berkesimpulan bahwa inyak berarti ‘kata ganti untuk menyebut pacar atau gebetan’.

Saya coba mundur ke masa sebelumnya, masa SMP. Ada satu kata unik yang saya ingat, yaitu ndrenges. Kata tersebut saya dengar dari teman seorang-teman-dekat-saya. Teman dekat saya punya hobi yang sama dengan saya: bermusik. Nah, teman dekat saya itu punya semacam geng yang orang-orangnya juga gemar bermusik.

Oleh karena ada kesamaan tersebut, saya kerap turut geng tadi sekaligus berkawan dengan mereka. Suatu kali, ketika pulang dari studio musik, kami bercanda tentang tingkah lucu para guru di sekolah. Kebetulan sekolah kami sama. Pada saat itulah saya pertama kali mendengar kata ndrenges. “Rupane ndrenges (wajahnya ndrenges),” ujar salah satu dari mereka.

Apa arti ndrenges? Ketika teman saya berkata “wajahnya ndrenges”, saya segera mengerti bahwa ndrenges adalah suatu kata untuk menerangkan kondisi wajah. Dengan memperhatikan suasana ketika ndrenges diucapkan, saya menangkap kesan negatif dalam kata itu. Berdasarkan hal-hal demikian, saya membuat kesimpulan sementara bahwa ndrenges berarti ‘kondisi wajah yang tidak baik atau jelek’.

Kesimpulan itu terkuatkan ketika kami bertemu kembali. Ndrenges diucapkan lagi dalam pembicaraan mengenai wajah. Namun, setelah mengamati lebih lanjut, saya menangkap kesan bahwa ndrenges tidak sekadar ‘jelek’. Lebih dari itu, ndrenges digunakan untuk menjelaskan kejelekan dalam level yang memprihatinkan.

Permainan Kita

Sekarang kita—saya dan Anda (pembaca)—sama-sama tahu arti kurukurukuru, inyak, dan ndrenges. Jika ada kesempatan untuk bertemu atau mengobrol, kita bisa menggunakan kata-kata tersebut tanpa keraguan dalam konteks yang juga sudah sama-sama kita tahu. Lantas, muncul pertanyaan: apakah kita dapat menggunakan ketiga kata itu di lingkungan lain?

Saya kira bisa saja, tetapi butuh usaha tertentu untuk menjelaskan arti dan penggunaannya dalam keseharian. Sebabnya, lingkungan yang berbeda memiliki kata atau istilah yang berbeda. Dalam tataran yang lebih tinggi, perbedaan itu bisa mencakup kalimat. Dalam level yang lebih mendasar, perbedaan itu bisa mencakup nilai dan pemahaman. Cakupan lingkungannya pun bermacam-macam, seperti tetangga sekitar, perkumpulan pelajar, sekawanan, etnis, agama, atau bahkan negara. Setiap lingkungan memiliki kata, istilah, atau cara berbahasa yang khas. Setiap bahasa memiliki “permainan” tersendiri. Istilah “permainan” itu saya pinjam dari salah seorang filsuf bahasa, Ludwig Wittgenstein.

Anggap saja kita iseng pergi ke suatu tempat yang jauh dan belum pernah kita kunjungi. Pada keramaian di sana, kita meneriakkan kurukurukuru. Saya yakin seratus persen kita akan dianggap sebagai orang gila karena kata itu tidak terdapat dalam kosakata masyarakat setempat. Jika pun ada, kemungkinan besar artinya lain dan pengunaannya pun berbeda. Itu karena masyarakat di sana memiliki aturan tersendiri atas bahasanya. Mereka punya permainan khusus. 

Jadi, saya pikir sangat penting bagi seseorang untuk memahami lingkungan tertentu beserta cara berbahasanya. Ada cara main yang mesti diikuti. Sebabnya, tidak ada sesuatu yang bermakna jika kita tidak paham cara mainnya. Pemahaman atas konteks juga perlu diperkuat.

Oleh karena itu, saya senang ketika Narabahasa meluncurkan seri Gramatika Bahasa Indonesia dengan kelas pembuka KDNB-55 Wacana dan Paragraf. Narabahasa mencoba memasyarakatkan pengetahuan kebahasaan dalam tataran yang lebih luas. Salah satu tujuannya agar kita makin lihai bermain dalam permainan kita. Dalam konteks itu, permainan kita adalah bahasa Indonesia.

Salam sepanjang hayat,

Harrits Rizqi