Tabik.

“Saya” pada judul Nawala ini akan sangat terasa subjektif. Namun, bukankah menulis memang menarik karena ada subjektivitas di dalamnya? Bukankah yang menarik dari karya justru personalitasnya? Setidaknya, itu menurut saya, seperti pada tulisan ini.

Meminjam judul buku Bertrand Russel yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia—Bagaimana Saya Menulis—tulisan ini akan mengawali jawaban kontemplatif untuk diri kita sendiri. Kalian—yang membaca ini—sudahkah menemukan titik nyaman kalian untuk menulis?

Sebagian orang bilang bahwa menulis lebih enak di tempat yang sepi karena tidak akan ada distraksi apa pun. Beberapa orang bilang lebih enak melakukannya pada malam hari karena—selain bebas distraksi—kita juga akan dibantu maksimal oleh imajinasi. Beberapa sisanya lebih sering menyarankan menulis di tempat ramai karena akan bertemu banyak orang sehingga membuat lebih banyak ide bermunculan. Saya memilih mencoba semuanya.

Selama enam bulan, secara bergantian, saya mencoba berbagai macam metode untuk meningkatkan kemampuan menulis saya, mulai dari di tempat sepi, di atas gunung, di pantai, di kedai kopi yang ramai pengunjung, di festival musik, di kantor, sejak malam sampai pagi, pagi sampai malam, dan sebagainya. Jawaban apa yang saya dapat? Semuanya. 

Begitulah saya menemukan kenyamanan saya menulis. Pekan kemarin saya berhenti meromantisisasi bahwa menulis harus dalam keadaan tertentu. Menunggu suasana hati, mencari waktu terbaik, dan mencari tempat terbaik ternyata malah membuat saya tidak ke mana-mana. Bagi saya, untuk menulis, ya, tinggal menulis saja. Dalam keadaan apa pun, saya menyamankan diri saya untuk menulis apa yang saya pikirkan dan rasakan. Dalam kondisi tubuh bagaimanapun, menulis bagi saya tidak berhubungan dengan itu. Hanya karena saya kurang tidur, saya tidak dapat berhenti menulis.

Apakah penulisan saya sudah baik? Tentu belum dan tentu itu urusan lain.

“Urusan lain” menjadi frasa yang membawa saya pada satu hal lain, yakni swasunting setelah menulis. Jika Kerabat Nara juga bersinggungan dengan hal tersebut, bahkan memiliki kebutuhan untuk menyunting naskah orang lain, merambanlah ke sinara.narabahasa.id, di bagian Kelas Daring Mandiri. Kerabat Nara akan menemukan kiat-kiat untuk melakukan penyuntingan. Topik tersebut akan bermanfaat untuk memaksimalkan hasil jadi tulisan kita dan orang lain.

Setelah Bagaimana Saya Menulis, barangkali pembahasan selanjutnya adalah Bagaimana Saya Menyunting.

 

Salam takzim,

Thesa Nurmanarina

Sekretaris Direktur dan Spesialis Hubungan Masyarakat