Bahasa Indonesia punya banyak bentuk terikat. Dalam Kamus Linguistik Edisi Keempat (2009), bentuk terikat didefinisikan sebagai ‘bentuk bahasa yang harus bergabung dengan unsur lain untuk dipakai dengan makna yang jelas’. 

Non- adalah salah satu bentuk terikat. Saya rasa masih banyak di antara kita yang memisahkan non- dengan kata yang mengikutinya, seperti non teknis, non fiksi, dan non migas. Padahal, sebagai bentuk terikat, ketiganya ditulis menjadi nonteknis, nonfiksi, dan nonmigas. Sementara itu, jika berkaitan dengan nama diri atau bentuk lain yang diawali dengan huruf kapital, bentuk terikat ini diikuti tanda hubung: non-Indonesia, non-Jawa, dan non-ASEAN.

Contoh bentuk terikat lainnya adalah pro-, pasca-, dan anti-. Sama dengan non-, ketiga bentuk terikat tersebut ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti proaktif, pascasarjana, dan antibiotik. Ketiganya pun ditulis dengan tanda hubung jika diikuti nama diri atau kata berawalan kapital: pro-Irian, pasca-Nusantara, dan anti-Israel.

Beberapa contoh di atas menunjukkan bertemunya bentuk terikat dengan bentuk dasar. Bagaimana jika bentuk terikat bertemu dengan sebuah kata berafiks?

Bentuk terikat maha-, misalnya, apabila merujuk pada Tuhan dan bertemu dengan kata Pengasih, ditulis secara terpisah: Maha Pengasih. Sebaliknya, jika maha- bertemu dengan kata dasar dan ditempatkan dalam kalimat berkonteks ketuhanan, penulisannya menjadi Mari kita memanjatkan doa kepada Tuhan yang Mahakuasa. Namun, dalam konteks bentuk terikat maha-, ada satu pengecualian, yakni mahaesa yang ditulis menjadi Maha Esa.

Pertanyaannya, apakah bentuk terikat lain yang diikuti dengan kata berimbuhan juga ditulis tidak serangkai dan tanpa tanda hubung? Misalnya, mana yang lebih tepat: anti perubahan atau anti-perubahan? Dalam hal ini, penulisan yang dianjurkan adalah antiperubahan. Kata ini belum tercantum dalam KBBI. Namun, bentuk serupa dapat kita temui dalam kamus, yaitu antipembekuan.

#bentukterikat

Rujukan: Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin