Pada awal April, Tabah atau Tanya Jawab Kebahasaan hadir mengikuti jadwal terbaru selama Ramadan, yaitu pukul 20.30 s.d. 21.30 WIB. Kali ini, Tabah tampil menyapa Kerabat Nara pada 4 April 2024 dengan dipandu oleh pramubahasa, Mbak Fauzia, dan ditemani oleh Mas Syaf, serta dibersamai oleh Uda Ivan Lanin sebagai narasumber tetap dalam program ini. Pada kesempatan tersebut, Mbak Fauzia mengawali perbincangan dengan mengajukan pertanyaan kepada Mas Syaf tentang latar belakang dan alasan menekuni bidang “boneka tangan” dalam program advokasi. Program tersebut ia bawakan selama proses pengenalan bahasa Indonesia ke seluruh Indonesia sebagai Duta Bahasa. 

Muhammad Ade Safri Salampessy, akrab dipanggil Mas Syaf, merupakan mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Teknologi Yogyakarta yang sekaligus sebagai Terbaik I Putra Duta Bahasa D.I. Yogyakarta dan Terbaik III Putra Duta Bahasa Nasional 2023. Dalam bidang akademik, Mas Syaf memiliki rekam jejak cukup baik melalui berbagai macam pencapaian, seperti peraih beasiswa Moonton Cares Scholarship pada 2022, beasiswa Leads Indonesia Leadership pada 2022, dan terbaik ke-3 pada Debat Mahasiswa Indonesia Regional V. 

Dedikasinya pada bidang pendidikan dan anak-anak membawanya pada berbagai kegiatan yang berhubungan dengan advokasi bercerita dan mendongeng, seperti Ekspedisi Suar Desa Adat Limbungan di Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan yang telah ia tekuni selama 12 tahun terakhir menerbangkannya ke pijakan yang jauh lebih tinggi dalam dunia kebahasaan. Pada 2023, Ia berhasil menjadi Terbaik I pada ajang Duta Bahasa D.I. Yogyakarta sekaligus melanglangbuanakan perjalanannya menjadi Terbaik III Duta Bahasa Nasional 2023. 

Perbincangan malam itu semakin cair karena Uda Ivan bersama Mas Syaf memahas terkait “boneka tangan” yang Mas Syaf geluti selama ini. Lekas pembicaraan, Uda Ivan menjawab beberapa pertanyaan unik yang diajukan oleh Kerabat Nara tentang kebahasaan, seperti pemilihan kata yang benar antara “stop” dan “setop”. Umumnya, dalam bahasa Indonesia, hal itu disebut prinsip suara bakti, penyisipan suara huruf spesifik khususnya “e” di antara dua konsonan. Misalnya, vokal “e” pada bahasa asing tidak ditambahkan. Namun, jika diadopsi dari bahasa daerah, vokal “e” akan ditambah. Pada pemutakhiran KBBI April 2021 kata tersebut ditulis dengan “stop” karena diserap dari bahasa asing. 

Tabah diakhiri dengan pernyataan Uda Ivan tentang kiat menghadapi wicara publik, seperti menghadapi kecemasan melalui mengatur pernapasan. Berbagai hal dalam wicara publik dapat dikendalikan dan diatur oleh diri sendiri. 

Jika Kerabat Nara mempunyai pertanyaan seputar bahasa, jangan ragu untuk bertanya di kanal media sosial Narabahasa. Tim Narabahasa akan menjawabnya pada Tabah setiap pekan.

 

Penulis: Irwan Maulana

Penyunting: Dita Sabariah