Selama ini kita memperingati peristiwa Sumpah Pemuda tiap 28 Oktober. Peristiwa tersebut tidak terpisahkan dari Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928. Hingga hari ini, Sumpah Pemuda telah dianggap sebagai tonggak kelahiran bahasa Indonesia.

Saya menemukan satu fakta yang menarik di dalam Masa-Masa Awal Bahasa Indonesia (2010), buku karya Harimurti Kridalaksana. Ia menuliskan, pada Kongres Pemuda I tertanggal 2 Mei 1926, Mohammad Yamin mengusulkan kalimat Kami poetra dan poetri Indonesia menjoenjoeng bahasa persatoean Bahasa Melajoe. Djamaloedin Adinegoro mendukung usulan tersebut. Sementara itu, adalah Mohammad Tabrani yang menentang pemahaman Yamin dan Adinegoro. Menurut Tabrani, bahasa bangsa Indonesia bukanlah bahasa Melayu, melainkan Bahasa Indonesia dengan B besar.

Tabrani dalam autobiografinya berjudul Anak Nakal Banyak Akal (1979)  menulis seperti ini.

“Jalan pikiran saya kalau tumpah darah dan bangsa disebut Indonesia, maka bahasa persatuannya harus disebut Bahasa Indonesia dan bukan Bahasa Melayu. Yamin naik pitam dengan alasan: ‘Tabrani menyetujui seluruh pikiran saya, tetapi kenapa menolak konsep usul resolusi saya. Lagi pula yang ada Bahasa Melayu, sedang Bahasa Indonesia tidak ada. Tabrani tukang ngelamun’. Tanggapan Tabrani: ‘Alasanmu Yamin betul dan kuat. Maklum lebih paham tentang bahasa daripada saya, namun saya tetap pada pendirian. Nama bahasa persatuan hendaknya bukan Bahasa Melayu, tetapi Bahasa Indonesia. Kalau belum ada harus dilahirkan melalui Kongres Pemuda Indonesia Pertama ini.”

Sanusi Pane, sastrawan angkatan Pujangga Baru, menyetujui usulan Tabrani. Dengan demikian, kedudukan pun seimbang: Yamin bersama Adinegoro dan Tabrani bersama Pane. Kesepakatan mengenai bahasa persatuan ditunda hingga Kongres Pemuda II. Namun, Sugondo Djojopuspito (Ketua Kongres Pemuda II) tidak membawa pertimbangan Yamin dan Adinegoro ke dalam sidang panitia. Sugondo langsung menghadirkan usulan Tabrani ke dalam sidang umum dan peserta menyetujuinya.

Saya rasa, Tabrani merupakan visioner. Ketika bahasa Indonesia, menurut Yamin, belum ada, Tabrani kurang lebih mengisyaratkan, ya berarti harus diciptakan.

Tabrani lahir pada 10 Oktober 1904, di Pamekasan, Madura. Ia menamatkan pendidikan di MULO dan OSVIA. Tabrani dikenal sebagai seorang wartawan. Hindia Baroe, Pemandangan, Suluh Indonesia, Koran Tjahaya, dan Indonesia Merdeka adalah sederet nama media massa yang pernah beliau naungi.

Jasa-jasa Tabrani dikenang melalui pemberian Tanda Jasa Perintis Kemerdekaan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pun mengubah nama Gedung Samudera menjadi Gedung Mohammad Tabrani. Lebih dari itu, Kemendikbud juga sudah mengusulkan untuk mengangkat Mohammad Tabrani sebagai pahlawan nasional.

Tabrani meninggal dunia dalam usia 80 pada 12 Januari 1984.

 

Rujukan:

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin