Hari ini, apabila kita mengetik “Madong Lubis” pada mesin pencari, hasil yang pertama terpampang adalah nama jalan. Selain itu, ada pula perpustakaan bernama Taman Perpustakaan Madong Lubis. Sebenarnya, siapa Madong Lubis?

Tidak mudah untuk menelusuri jejak Madong Lubis. Ia lahir pada 1890 di Desa Hutaraja, berdekatan dengan Tano Bato, Mandailing, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Bandung Mawardi lewat majalah Tempo (2016) menuliskan bahwa Madong Lubis memiliki peran dalam memajukan bahasa Indonesia melalui lagu-lagu yang ia gubah. Pada 1925, Madong Lubis menulis satu buku lagu berjudul Taman Kesoema yang digunakan sebagai bahan ajar di sekolah rendah. Lirik dalam lagu-lagu beliau dinilai sederhana dan mudah disenandungkan oleh anak-anak pada masa penjajahan. Bahkan, jauh sebelum Indonesia merdeka, Madong Lubis sudah memiliki gagasan tentang tanah air yang tecermin lewat lirik lagu “Selamat Tinggal Tanah Airkoe”: Selamat tinggal tanah airkoe/ Tanahkoe, tempat darah tertoempah/ Hilanglah engkau dari matakoe/ Akoe ini pergi mentjari nafkah.

Lagu karangan beliau yang barangkali kita ketahui saat ini adalah “Layang-Layang” yang berlirik Kuambil buluh sebatang/ Kupotong sama panjang/ Kuraut dan kutimbang dengan benang/ Kujadikan layang-layang.

Madong Lubis tidak hanya berkarya lewat lagu. Saya pun baru tahu bahwa beliau adalah seorang guru dan ahli bahasa Indonesia ternama di Sumatra Utara. Pada Kongres Bahasa II (28 Oktober–2 November 1954) di Medan, Madong Lubis tercatat sebagai anggota panitia dan pembicara dalam seksi D yang bertopik “Bahasa Indonesia dalam Pergaulan Sehari-hari”. Awaluddin Ahmad dalam “Madong Lubis: Guru dan Ahli Bahasa Indonesia yang Dilupakan” (1979) menyatakan bahwa salah satu keputusan Kongres Bahasa berawal dari saran Madong Lubis, yakni “Dasar bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam masyarakat Indonesia sekarang.”

Minat Madong Lubis terhadap bahasa Indonesia juga terbukti melalui inisiatif beliau untuk menjabat sebagai ketua Badan Pertemuan Sastrawan Indonesia (BPSI) pada 2 September 1951. Selain itu, beliau menerbitkan buku-buku bahasa, seperti Parama Sastera (1946), Keindahan Bahasa Indonesia (1950), dan Kamus Kata-Kata Sulit (1952). Terlebih, ia pun terkenal aktif dalam aktivitas kewartawanan.

Sungguh disayangkan, karya-karya Madong Lubis agaknya tidak terdokumentasikan dengan baik. Nama dan jasanya pun seakan lenyap. Padahal, dahulu pernah ada usul untuk melahirkan label penghargaan bernama Hadiah Madong Lubis. Saran untuk memberi gelar Pahlawan Nasional kepada beliau pun juga belum terlaksana. Hal-hal itu, menurut Awaluddin Ahmad, penting untuk direalisasikan sebab peranan Madong Lubis sama bermaknanya dengan peninggalan Amir Hamzah.

Madong Lubis mengembuskan napas terakhirnya pada 21 November 1959. Kiprahnya dalam dunia kebahasaan kurang lebih tercatat selama 46 tahun.

 

Rujukan:

  • A, Wahyu Putro. 2016. “Ketika Khagati Kolope Terbesar Mengudara”. Diakses pada 7 Mei 2021.
  • Ahmad, Awaluddin. 1979. “Madong Lubis: Guru dan Ahli Bahasa Indonesia yang Dilupakan”. Majalah Horison, No. 3, XIV, hlm. 77–79. Jakarta: Yayasan Indonesia.
  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2011. Kumpulan Putusan Kongres Bahasa Indonesia I–IX. 
  • Mawardi, Bandung. 2016. “Madong Lubis: Lagu dan Buku”. Majalah Tempo, Oktober, Jakarta. 

Penulis: Yudhistira
Penyunting: Ivan Lanin