Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2017) adalah buku pertama yang akan saya buka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kebahasaan. Salah satu penyuntingnya, bernama Anton Moeliono. Siapakah beliau?

Pada 1958, Anton Moeliono memperoleh gelar sarjana di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Beliau kemudian melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat, di Universitas Cornell. Di sana, Anton Moeliono menuntaskan studi General Linguistic dan menyabet predikat Master of Arts. Dia kemudian resmi menjadi Doktor Ilmu Sastra, bidang Linguistik, di Universitas Indonesia pada 1981. 

Tentu, Anton Moeliono memberikan kontribusi yang besar dalam perjalanan bahasa Indonesia.  Berkat dialah, kita memiliki padanan kata “pencakar langit”, “nirlaba”, “jalan layang”, “pasar swalayan”, dll. Dari tangannya pula, lahir karya-karya yang membahas isu kebahasaan seperti Pedoman Umum Pembentukan Istilah (1975), Aspek Teoretis dalam Penerjemahan (1997), dan Beberapa Aspek Masalah Penerjemahan ke Bahasa Indonesia (1997). Bapak Anton bahkan menjadi sosok penting di balik kelahiran Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada 1972. Pun, ketika beliau memimpin Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) resmi terbit untuk pertama kalinya.

Bagi saya, yang patut kita simak dari Anton Moeliono adalah pandangannya mengenai bahasa Indonesia. Dosen saya di Universitas Indonesia, Ibu Felicia N. Utorodewo (Ibu Sis), mengatakan bahwa Pak Ton terkenal galak di antara mahasiswa saat itu. Kata-katanya tajam dan menyengat. Ibu Sis menuliskan, Pak Ton sebagai ayatullah bahasa Indonesia percaya bahwa penguasaan atas makna dan penggunaan kata akan membangkitkan rasa percaya diri kita sebagai pengguna bahasa.

Entah mengapa, pernyataan tersebut menarik saya untuk mengingat-ingat kebiasaan kita yang begitu tertib dalam menggunakan bahasa asing. Ketika menulis atau berbicara dalam bahasa Inggris, misalnya, kita punya kecenderungan untuk takut melakukan kesalahan. Namun, dalam menggunakan bahasa Indonesia, saya melihat teman-teman sebaya yang tidak acuh.

Terkadang, pengetahuan yang minim membuat kita merasa minder untuk melakukan sesuatu. Begitu pula dalam berbahasa. Namun, kita sering kali enggan untuk mengulik bahasa Indonesia lebih lanjut. Ironisnya, kita justru memiliki keinginan yang begitu besar dalam mempelajari sesuatu yang baru: bahasa yang tidak kita gunakan sejak lahir. 

Apakah kita sudah betul-betul selesai mempelajari bahasa Indonesia? Menurut saya, ilmu tidak akan pernah habis dan kita tidak akan tuntas mempelajari bahasa Indonesia. Selama kita hidup, bahasa Indonesia pun ikut bernapas. Pak Anton berujar bahwa dia ingin bangsa Indonesia bangga dengan bahasa Indonesia dan menggunakan bahasa Indonesia adalah cara yang paling efektif untuk senantiasa merawatnya.

Anton Moeliono menghembuskan napas terakhir pada Juli 2011. Semoga semangat beliau dalam melestarikan bahasa Indonesia terus bersemayam dan tumbuh pada jiwa kita.

#AntonMoeliono #TokohBahasa

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Dessy Irawan

Rujukan: