Bekerja di Narabahasa membuat saya sadar pentingnya menguasai empat keterampilan bahasa, yaitu menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Saat ini saya belum bisa mengatakan bahwa saya sudah menguasai keempatnya dengan sempurna. Namun, saya merasa kemampuan saya jauh berkembang dibandingkan sebelum masuk Narabahasa. Kalau diingat-ingat, kemampuan berbahasa Indonesia saya dulu, duh, kacau sekali. 

Dari keempat keterampilan bahasa yang saya sebutkan, menurut saya, yang paling menantang adalah menulis. Kesulitan yang saya alami adalah menguraikan ide dan suara yang ada dalam kepala menjadi tulisan yang rapi dan enak dibaca. Rapi dan enak dibaca yang saya maksud adalah ejaan yang tepat, kalimat yang sambung-menyambung, dan paragraf yang padu sehingga alur ceritanya jelas. 

Pengalaman pertama saya dalam bidang menulis ialah menjadi peserta lomba cipta cerpen ketika SMP. Kala itu durasi yang diberikan hanya dua jam dan tema cerpennya baru diumumkan pada hari perlombaan. Jadi, saya tidak bisa melakukan curah pikir terlebih dahulu. Penentuan tokoh, watak, dan alur cerita hanya bisa dilaksanakan dalam waktu terbatas. Karena itu adalah pengalaman pertama, saya jelas terkejut. Saya membatin, “Bisa, ndak, ya, selesai dalam dua jam?” Jawabannya bisa, tetapi tulisan tangan saya sudah tak karuan. Saya yakin panitia seleksi sakit kepala usai mengecek karya saya. Ketika pemenangnya diumumkan, prediksi saya tepat. Saya tidak masuk tiga besar. Meskipun kecewa, saya berusaha menenangkan diri dengan berpikir bahwa pengalaman tersebut bisa dijadikan pelajaran.

Seusai itu, saya tidak pernah terlibat dalam lomba atau aktivitas menulis lain hingga saya masuk ke perguruan tinggi. Pada tahun pertama berkuliah, saya melihat ada lowongan dengan posisi penulis berita lepas di unit kegiatan mahasiswa (UKM). Dengan berbekal ilmu asdikamba (5W1H) dan kemampuan menulis seadanya, saya nekat mendaftar. Kebetulan lowongan tersebut hanya dibuka untuk mahasiswa semester satu sampai empat. Dengan percaya diri, saya merasa bahwa kemampuan saya tidak berbeda jauh dengan pendaftar lain.

Ternyata saya dan sembilan orang lainnya berhasil diterima. Saya senang sekali karena itu tanda bahwa kemampuan saya dalam menulis berkembang.

Selama menjadi penulis berita, terasa sekali perubahan pada gaya menulis saya. Mungkin itu karena sebelumnya saya lebih sering menulis cerpen. Gaya bahasanya tentu lebih lentur dibandingkan tulisan jurnalistik.

Ketika bekerja di Narabahasa, kemampuan saya diuji kembali dengan menulis nawala dan berita. Bedanya, kali ini saya merasa lebih siap karena sudah mengikuti kelas gramatika. Saya mulai bisa mengidentifikasi paragraf yang belum padu, kalimat yang tidak efektif, dan ejaan yang kurang tepat. 

Kendati sudah lebih siap, saya merasa masih harus meningkatkan kemampuan dalam menulis. Saya mesti belajar lebih lanjut tentang cara menggali ide dan menjadikannya sebuah tulisan yang lengkap sehingga membentuk wacana yang utuh.

Bagaimana dengan Kerabat Nara? Apakah Kerabat Nara tertarik untuk belajar menata wacana juga? Kalau iya, sampai jumpa pada kelas Kiat Menata Wacana, ya, Kerabat Nara!