Saya pernah berpikir, apakah bisa manusia hidup tanpa kata tetapi? Dalam bertutur sehari-hari, kita sering betul menggunakan kata tersebut. Dengan kata lain, banyak sekali gagasan pertentangan yang kita ujarkan. Sementara itu, dalam ragam tulisan, kata akan tetapi, namun, dan tetapi tidak hanya berfungsi sebagai penanda pertentangan, tetapi juga sebagai pengatur irama.

Sebetulnya, ketiga konjungsi itu memiliki makna yang sama. Yang perlu dibedakan adalah posisi penggunaannya. Akan tetapi, misalnya, menurut Moeliono dkk. dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2017), tergolong dalam konjungsi antarkalimat. Berarti, konjungsi akan tetapi harus diletakkan di awal kalimat. Perhatikan contoh berikut.

  1. Aku mencintaimu. Akan tetapi, aku harus melepaskanmu.
  2. Hujan turun dengan deras. Akan tetapi, saya tetap harus berangkat ke sekolah.

Konjungsi namun juga tergolong dalam kata hubung antarkalimat sehingga bisa menggantikan akan tetapi. Berikut contohnya.

  1. Aku mencintaimu. Namun, aku harus melepaskanmu.
  2. Hujan turun dengan deras. Namun, saya tetap harus berangkat ke sekolah.

Apabila kita ingin menggunakan konjungsi tetapi, struktur kalimat di atas harus diubah. Kata hubung tetapi merupakan konjungsi intrakalimat. KBBI sudah merumuskan definisi ‘kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras’ pada lema tetapi. Terlebih, dalam buku yang sama, Moeliono dkk. memasukkan kata tetapi dalam kategori konjungsi koordinatif, yaitu konjungsi yang menghubungkan dua unsur atau lebih yang sama penting atau memiliki status sintaksis yang sama.

  1. Aku mencintaimu, tetapi aku harus melepaskanmu.
  2. Hujan turun dengan deras, tetapi saya tetap harus berangkat ke sekolah.

Penggunaan konjungsi tetapi dapat dilihat pada contoh di atas. Kita bisa lihat, terdapat tanda baca koma sebelum tetapi sebagai pembatas klausa.

Lalu bagaimana dengan konjungsi tapi? Kata ini adalah bentuk takbaku dari tetapi. Dengan makna yang serupa sebagaimana akan tetapi dan namun, penggunaan tapi lebih sering kita temukan pada ragam informal.

#konjungsi #tetapi #namun #tapi #akantetapi

Rujukan:

  • Lanin, Ivan. 2016. “Namun, tetapi, dan tapi”. Diakses pada 17 September 2021.
  • Moeliono, Anton M., dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin