Salah satu pertanyaan yang sering diajukan kepada saya ialah “Buat apa kita selalu mencari padanan bahasa Indonesia untuk kata atau istilah bahasa asing? Bukankah kita sudah terbiasa dan bisa memahami istilah asing, seperti marketplace dan podcast? Mengapa mesti mencari padanan yang aneh, seperti lokapasar dan siniar?”

Jawaban sederhana untuk pertanyaan-pertanyaan itu adalah karena kita perlu selalu meningkatkan daya ungkap bahasa Indonesia. Kata mengungkapkan sebuah konsep, sedangkan konsep baru terus bermunculan seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia. Bangsa yang tidak memiliki kata unik      dalam bahasanya sendiri untuk konsep baru akan mengikuti kata dari bahasa dan bangsa lain. Bahasa bangsa pengikut itu tidak akan berkembang mengikuti peradaban manusia.

Perkembangan kosakata sebuah bahasa menunjukkan perkembangan peradaban bangsa penutur bahasa itu. Dengan memaksa bahasa Indonesia membuat istilah sendiri untuk konsep kontemporer, kita membuat bahasa dan peradaban kita selalu modern dan tidak kalah bersaing dengan bahasa dan bangsa lain. Kita dapat menganalogikan ini dengan atlet yang selalu mengikuti perkembangan baru pada cabang olahraganya dan menyesuaikan perkembangan itu dengan dirinya. Tiap atlet memiliki kekhasan; tiap bahasa pun demikian.

Padanan istilah tentu saja tidak boleh dibuat dengan serampangan. Ada lima syarat—tepat, singkat, baik, sedap, dan sesuai—yang harus diikuti sebuah istilah. Istilah harus tepat mengungkap makna konsep dengan kata atau gabungan kata yang paling singkat. Selanjutnya, istilah juga patut bernilai rasa baik dan sedap didengar. Terakhir, istilah pun mesti sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, seperti pola suku kata dan cara pengucapan.

Upaya pemadanan istilah membuat kosakata bahasa Indonesia terus bertumbuh. Hingga Agustus 2021, jumlah entri di Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (KBBI Daring) sudah melebihi 114 ribu. Seiring jadwal pemutakhiran dua kali setahun, tiap April dan Oktober, jumlah itu akan terus bertambah. Penambahan kosakata itu tidak ada gunanya jika para penutur bahasa Indonesia tidak mengetahui dan memakai kosakata baru dalam keseharian mereka. Itulah yang membuat kami selalu berusaha memperkenalkan padanan istilah kepada Kerabat Nara melalui berbagai kanal media sosial Narabahasa.

Pertumbuhan juga diangkat pemerintah pada tema HUT ke-76 Indonesia yang akan kita peringati bulan Agustus ini: Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Saya agak kaget ketika mengetahui tema ini karena, sesuai dengan peta jalan lima tahun 2020–2024 Narabahasa, tahun ini pun direncanakan sebagai tahun tumbuh bagi kami. Tahun lahir kami 2020, sedangkan tahun-tahun berikutnya berturut-turut kami merencanakan untuk mekar (2022), kembang (2023), dan semerbak (2024).

Alhamdulillah, pada tahun ini Narabahasa dapat tumbuh untuk menyediakan berbagai layanan dan produk kebahasaan bagi Kerabat Nara. Jumlah kelas daring publik Narabahasa kini sudah mencakup 22 topik, termasuk penulisan artikel ilmiah populer dan surat resmi yang akan digelar pekan ini. Narasumber kelas pun divariasikan dengan pengajar baru, seperti Iqbal Aji Daryono yang akan membagikan ilmu penulisan esai pada Rabu, 18 Agustus 2021.

Semua itu kami lakukan untuk mewujudkan misi kedua Narabahasa, yaitu meningkatkan keterampilan bahasa bangsa Indonesia. Ya, itu untuk semua Kerabat Nara!

Dirgahayu Indonesia! Dirgahayu bahasa kita!