Pada Kinara episode ke-67, Narabahasa berkesempatan untuk berdiskusi dengan Fauzan Al-Rasyid, salah satu widyaiswara di Narabahasa, yang baru saja merilis buku Diglosia: Gramatika Bahasa Indonesia untuk Gen Z. Episode yang dilaksanakan pada Sabtu, 14 Maret 2026 di Spaces X ini dipandu oleh Tuah Ananda sebagai moderator dan Ivan Lanin sebagai pemantik.
Fauzan Al-Rasyid, akrab disapa Fauzan, merilis buku tersebut pada awal Maret 2026. Buku ini menanggapi saran dari rekan Fauzan yang menyarankan dirinya untuk membukukan ilmu-ilmu kebahasaannya. Menurut Fauzan, setiap orang memiliki waktunya dan buku ini menjadi warisan yang dapat mengabadikan pengetahuannya selama ini.
Diglosia: Gramatika Bahasa Indonesia untuk Gen Z berasal dari tulisan-tulisan Fauzan di media sosial. Ia kerap membagikan materi tentang bahasa Indonesia, terutama bagi siswa-siswi yang ingin mengejar perguruan tinggi negeri (PTN). Fauzan memilah materi yang menurutnya tepat sebagai bahan untuk buku tersebut dan melakukan pendalaman. Melalui pengalamannya, Fauzan memahami cara berkomunikasi dengan gen Z dengan baik, yaitu menggunakan bahasa lisan yang dituliskan.
Di sisi lain, Fauzan juga melihat banyak buku linguistik dituliskan dengan bahasa yang rumit. Teori-teori yang dibahas pada buku-buku tersebut tidak dapat dipahami dengan cepat dan sederhana oleh masyarakat. Oleh sebab itu, Diglosia: Gramatika Bahasa Indonesia untuk Gen Z dirilis untuk menjawab jarak antara ilmu linguistik dan para pembaca. “Saya mau buku ini dibahas dengan bahasa sehari-hari. Saya pikir akan sulit untuk menjelaskan konsep bahasa yang kompleks, tetapi buku ini menyajikan pendekatan yang berbeda,” ujarnya.
Ivan melihat fenomena ini sebagai sebuah tantangan. Menurutnya, bahasa yang digunakan pada tiap generasi akan selalu berubah sehingga pendekatan yang digunakan juga harus disesuaikan. “Saya sudah bermain X dari tahun 2010 dan memang karakter (generasi) selalu berubah. Mungkin bahasa yang digunakan Mas Fauzan sekarang cocok, tetapi bisa saja dalam waktu 5 tahun sudah tidak cocok lagi,” ungkapnya.
Pada akhir sesi, Fauzan menjelaskan harapannya untuk buku ini. Ia berharap masyarakat dapat lebih mengenal bahasanya sendiri. “Bahasa itu bukan sesuatu yang remeh. Namun, karena setiap orang menggunakannya, semua merasa memilikinya tanpa harus mempelajarinya lebih lanjut. Dengan buku ini, saya harap dapat mengubah perspektif masyarakat bahwa bahasa itu rumit, tetapi bisa menjadi mudah jika dibahas secara menyenangkan,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, Narabahasa berharap diskusi tentang bahasa Indonesia dapat menjangkau lebih banyak kalangan, terutama generasi muda. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk melihat bahasa sebagai sesuatu yang menarik untuk dipelajari dan dibicarakan secara terbuka.
Penulis: Tuah Ananda Setiawan
Penyunting: Rifka Az-zahra
