Narabahasa telah melaksanakan Kicauan Narabahasa (Kinara) episode ke-69 pada Minggu, 12 April 2026 di Spaces X. Kali ini, Narabahasa mengundang Intan Andaru sebagai narasumber untuk membahas karyanya yang berjudul Bia dan Kapak Batu. Acara ini dipandu oleh Muhammad Rauf sebagai moderator dan Ivan Lanin sebagai pemantik.
Intan Andaru, kerap disapa Intan, adalah seorang penulis dan dokter yang berfokus pada bidang urologi. Buku ini ditulis oleh Intan berdasarkan fenomena yang terjadi di Papua pada 2018. “Pada saat itu, Papua sedang ramai diberitakan karena wabah campak sehingga saya ingin sekali datang sebagai relawan dokter. Hanya saja, kuota untuk relawan dokter cukup terbatas. Akhirnya, saya menemukan kesempatan lain untuk datang sebagai perempuan di bidang seni melalui dana hibah,” ujarnya.
Awalnya, Intan ingin mengetahui perbedaan antara campak di Jawa dan Papua yang menyebabkan fenomena itu diklasifikasikan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Ia pun melakukan riset sebagai seorang penulis yang ingin mengetahui kejadian tersebut. “Saya akhirnya menyimpulkan bahwa ada banyak penyebab terjadinya fenomena wabah campak di Papua, salah satunya kehadiran penduduk asing dari luar pulau Papua,” ungkapnya.
Lalu, Rauf menanyakan peran Intan sebagai seorang dokter dan bagaimana keunikan tersebut dapat menambah sudut pandangnya dalam menulis. Menurut Intan, Bia dan Kapak Batu memang ditulis dari perspektif seorang dokter. Pengetahuannya pada bidang tersebut mampu memudahkannya dalam menjelaskan penyebab dari situasi yang ada.
Rauf juga bertanya tentang penggunaan pronomina khas daerah Papua, seperti sa dan ko yang digunakan oleh Intan. Intan menyampaikan bahwa hal tersebut memang disengaja supaya Bia dan Kapak Batu terasa lebih natural. “Saya merasa diksi, kalimat, bahkan pengandaian yang saya gunakan memang diucapkan oleh masyarakat Papua seperti itu sehingga saya perlu banyak berdiskusi dengan editor buku ini untuk memastikan bahwa pesannya tetap sampai,” tutur Intan.
Buku ini juga dikonfirmasi oleh Intan akan berlanjut. “Ada tiga seri yang akan berlatar Papua. Pertama, Bia dan Kapak Batu. Lalu ada Sekarung Gaharu. Satu lagi akan mengisahkan dokter dan kesehatannya,” ucapnya.
Sebagai penutup, Rauf menanyakan harapan Intan untuk para pembaca bukunya, terutama Bia dan Kapak Batu dan buku-buku lainnya yang berlatar Papua. Intan menjawab, “Saya ingin menyampaikan bahwa kita sangat berutang kepada masyarakat Papua. Saya merasa perlu berkontribusi kepada Papua setelah banyak yang Papua berikan kepada Indonesia. Saya juga ingin menyampaikan bahwa saat ini Papua sedang tidak baik-baik saja.”
Melalui episode ini, Narabahasa berharap diskusi yang dihadirkan tidak hanya memperluas wawasan kebahasaan dan kesastraan, tetapi juga membuka ruang empati terhadap realitas sosial yang terjadi di Papua. Dengan menghadirkan perspektif lintas disiplin seperti yang ditunjukkan Intan Andaru, Narabahasa ingin mendorong publik untuk lebih peka, kritis, sekaligus reflektif dalam memaknai karya sastra sebagai medium yang merekam dan menyuarakan kenyataan.
Penulis: Tuah Ananda Setiawan
Penyunting: Zhafira Salsabila
