Narabahasa kembali mengadakan Kinara (Kicauan Narabahasa) pada Sabtu, 23 Mei 2026 di Spaces X. Pada episode ke-71 ini, Narabahasa berkesempatan untuk melaksanakan Kinara edisi spesial dengan mengundang Ivan Lanin, Harrits Rizqi, dan Hafizh Pragitya sebagai narasumber untuk membahas karya terbaru seri Recehan Bahasa, yaitu buku Recehan Bahasa #2: Receh Tak Selalu Remeh. Kegiatan tersebut dipandu oleh Rauf sebagai moderator.
Memulai sesi diskusi, Rauf bertanya perihal rentang lima tahun di antara kedua seri Recehan Bahasa. Ivan, sebagai penulis buku pertama dan kedua, menjawab bahwa ia tidak memiliki rencana untuk menulis seri kedua ini. Karya ini justru berasal dari Harrits yang memiliki ide untuk membukukan konten trivia dari media sosial Narabahasa. “Buat saya, buku ini ada tanpa rencana. Setelah ‘dikompori’ oleh Mas Harrits dan berdiskusi dengan Mizan, baru akhirnya Recehan Bahasa #2 mulai dikerjakan,” ujarnya.
Harrits sebagai penggagas ide pada seri kedua ini menjelaskan bahwa ia merasa konten trivia Narabahasa perlu dikumpulkan. “Ketika konten tersebut dikumpulkan, materinya akan lebih mudah dipahami dan dapat dijadikan apa pun,” ucapnya. Ia juga menceritakan proses pengumpulan konten trivia Narabahasa. “Sudah cukup lama konten itu dikumpulkan. ‘Bank’-nya sendiri sudah ada sejak 2021, tetapi baru pada awal 2022 perlahan-lahan konten-konten tersebut dinaikkan ke media sosial. Lalu, melihat tingginya antusiasme penikmat konten di media sosial, Tim Konten Narabahasa lainnya juga ikut menambahkan ide-ide ke bank konten,” tambahnya.
Secara peran, proses pembuatan buku ini terbilang cukup rapi. “Mekanismenya, saya menerima bahan dasar dari Mas Harrits. Lalu, saya mengembangkan bahan itu supaya memiliki lebih banyak materi,” ujar Ivan. Uniknya, ketiga narasumber yang hadir memiliki tantangan yang sama dalam mengerjakan Recehan Bahasa #2. Mereka harus mendalami sumber-sumber yang digunakan untuk mendapatkan kebenaran terkait data yang digunakan. “Saya sebagai editor pun harus ‘menyelami’ KBBI karena kami perlu memeriksa fakta yang disampaikan. Saya dan Mbak Dias selaku editor juga wajib memastikan bahwa sumber yang digunakan adalah yang terbaru. Jadi, hal itu adalah tantangan yang dirasakan ketika mengerjakan buku ini,” jelas Hafizh.
Kemudian, Rauf membandingkan kedua seri tersebut dan bertanya kepada Ivan. “Apakah selama lima tahun terakhir bahasa Indonesia telah berkembang pesat atau justru tidak terlalu?” Menanggapi hal tersebut, Ivan menjawab bahwa keberadaan media digital memaksa bahasa untuk terus berkembang, bahkan ke arah yang cenderung nonformal dan berfokus di bidang multimedia. Secara kosakata, menurut Ivan, bahasa Indonesia berkembang pesat terutama pada slang.
Terakhir, ketiga narasumber memberikan harapan mereka untuk buku yang dirilis pada Mei 2026 ini. Ivan berharap agar masyarakat memahami bahwa bahasa itu menyenangkan dan kaidah tidak bersifat membatasi, tetapi menuntun cara penyampaian supaya mudah dipahami. Lalu, Harrits menyatakan, “Semoga buku ini dapat menjadi pintu masuk buat Teman-Teman yang mau mendalami bahasa. Walaupun ini bukan buku linguistik yang panjang, buku ini bisa menjadi opsi yang ringan untuk menumbuhkan minat terhadap bahasa.” Hafizh menambahkan, “Bahasa itu sangat menyenangkan karena tidak selalu membahas hal serius. Ada banyak hal lucu di dalamnya. Segala perasaan bisa muncul ketika kita mempelajari bahasa.”
Melalui episode ini, Narabahasa berharap Recehan Bahasa #2: Receh Tak Selalu Remeh dapat menjadi jembatan bagi para pembaca terhadap dunia bahasa yang lebih ringan dan menyenangkan. Narabahasa juga berharap minat masyarakat terhadap bahasa dapat terus meningkat sehingga kekayaan bahasa Indonesia turut bertambah.
Penulis: Tuah Ananda Setiawan
Penyunting: Rifka Az-zahra
