Episode ke-25 program Selisik Kebahasaan (Lisan) hadir kembali pada Rabu, 23 Juli 2025 secara daring, dengan topik “Perencanaan Bahasa: Tantangan dan Masa Depan Bahasa”. Narabahasa menghadirkan Djoko Saryono, seorang guru besar dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang sebagai narasumber, dengan dipandu oleh Dita Sabariah sebagai moderator.
Dalam paparannya, Djoko Saryono menekankan pentingnya perencanaan bahasa dalam menghadapi dinamika zaman. Menurutnya, tidak ada bahasa yang benar-benar stabil sehingga perencanaan bahasa dan sastra menjadi keharusan. Ia menyoroti tiga sektor yang memengaruhi perkembangan bahasa, yaitu ekonomi, sains, dan teknologi.
Djoko menyebut kondisi saat ini sebagai “tsunami digital”. Perubahan yang sangat cepat dalam pola komunikasi dan interaksi menuntut respons aktif dari lembaga-lembaga kebahasaan maupun masyarakat umum agar keberlangsungan bahasa tetap terjaga dalam berbagai ranah, termasuk ruang digital.
Selain sesi pemaparan, dibuka juga sesi diskusi dan tanya jawab. Ivan Lanin mengajukan pertanyaan mengenai efisiensi dalam perencanaan bahasa, khususnya agar tidak mengulang hal-hal yang telah dilakukan sebelumnya. Menanggapi hal ini, Djoko Saryono menjelaskan pentingnya pendekatan yang melibatkan berbagai kalangan pengguna bahasa, mulai dari masyarakat umum hingga profesional lintas bidang. “Perencanaan bahasa bukan hanya urusan ahli, melainkan juga pengguna bahasa, dari tentara hingga pengusaha,” ungkap Djoko.
Pertanyaan menarik juga muncul dari salah satu peserta, Muhibudin, yang bertanya seputar toleransi daya ungkap atau perluasan gramatika serta kiat yang jelas untuk tetap mempertahankan kejelasan standar gramatika.
Djoko Saryono menjelaskan bahwa perluasan gramatika harus dilakukan. Standar kebahasaan juga perlu dijaga meski dinamikanya terus berkembang. Ia menyatakan bahwa bukan hanya aspek gramatika yang penting, melainkan juga gaya bahasa. Menurutnya, perubahan yang cepat menuntut penetapan standar baru yang juga lebih cepat, baik berupa perubahan maupun pengembangan dari standar yang ada.
“Peninjauan kembali terhadap standar kebahasaan harus dipercepat. Ini bukan hanya tugas ahli atau Badan Bahasa, melainkan tanggung jawab bersama seluruh institusi kebahasaan dan pengguna bahasa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara rumusan baku dan praktik kebahasaan sehari-hari. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menulis, termasuk di ranah digital. “Percakapan juga tetap harus dipertahankan untuk merawat ragam lisan di tengah perubahan yang makin cepat,” tutupnya.
Sebelum sesi diskusi ditutup, Djoko Saryono mengajak Kerabat Nara untuk bisa terus merawat bahasa. Menurutnya, bahasa adalah penanda akal budi manusia. “Kalau kita tidak merawat dan memperkaya bahasa, berarti kita sudah memberhentikan diri sendiri sebagai makhluk berakal budi,” ujarnya.
Penulis: Yuhaenida Meilani
Penyunting: Rifka Az-zahra