Narabahasa kembali mengadakan Kelas Daring Publik (KDP) pada Sabtu, 4 April 2026, pukul 09.00–11.00 WIB. Kali ini, KDP membawakan topik “Mahir Bertata Bahasa Dasar” dan menghadirkan Dita Sabariah, seorang dosen Bahasa Indonesia, sebagai narasumber. Acara ini dipandu oleh Gathans selaku moderator. Setiap peserta yang hadir mendapatkan rekaman kelas, salinan bahan ajar, dan sertifikat digital.
Sebelum memulai kelas, Dita menjelaskan materi yang akan dibawakan. Menurutnya, kelas ini bukan sekadar membahas penggunaan bahasa yang harus sesuai struktur, melainkan juga harus memperjelas tujuannya. “Yang terpenting dalam berbahasa adalah bahwa pesan dari Kerabat Nara dapat dipahami oleh pembaca ataupun pendengarnya sesuai dengan apa yang ingin disampaikan,” ujarnya.
Kemudian, Dita memulai kelas dengan menjelaskan tujuan serta bahan yang akan digunakan, mulai dari pembentukan wacana hingga pembentukan istilah. Tujuan dari kelas ini diharapkan dapat dirasakan oleh para peserta dengan berbagai macam latar belakang. “Wacana dipengaruhi oleh paragraf yang padu, lalu kalimat yang efektif, dan pemilihan kata yang tepat,” jelasnya.
Dita menjelaskan wacana dengan membaginya menjadi beberapa bagian, yaitu jenis, pembuatan, dan kelengkapan. Menurutnya, bahasa dan konteks adalah dua hal yang akan hadir dalam materi wacana. Selanjutnya, pembahasan materi paragraf dibagi menjadi jenis, pengembangan, dan keutuhan paragraf. “Paragraf menjadi salah satu materi yang paling sering ditemui, bahkan sejak sekolah dasar. Pada dasarnya, paragraf adalah satuan pikiran yang berciri fisik, yaitu memiliki alinea,” ujarnya.
Dita melanjutkan pembahasan ke materi kalimat. Ia membaginya dalam tiga bagian, yaitu jenis, perangkaian, dan keefektifan kalimat. “Tidak ada batasan jumlah kalimat untuk satu paragraf. Jika paragraf yang ditulis dirasa telah selesai, jumlah kalimat yang dimiliki tidak menjadi persoalan,” paparnya. Pada bahan terakhir, Dita memaparkan materi kata menjadi empat bagian, yaitu kelas, pembentukan, pemilihan, dan pemadanan. Menurutnya, pada materi ini bahasa Indonesia memiliki keunikannya tersendiri, yaitu perihal imbuhan. Imbuhan terbilang mudah bagi penutur asli, tetapi sulit untuk dikuasai oleh penutur asing.
Terakhir, Dita menyampaikan bahwa mahir bertata bahasa tidak semata-mata kaku pada aturan yang ada, tetapi dapat menyesuaikan bahasa yang digunakan sesuai dengan keseluruhan konteks.
Melalui KDP ini, Narabahasa berharap para peserta dapat makin percaya diri dalam menyusun bahasa secara runtut dan terarah, mulai dari pemilihan kata hingga pembentukan wacana yang utuh. Dengan pemahaman yang lebih menyeluruh ini, peserta diharapkan mampu mengaplikasikan keterampilan bertata bahasa dalam berbagai kebutuhan, baik akademik, profesional, maupun keseharian.
Penulis: Tuah Ananda Setiawan
Penyunting: Rifka Az-zahra
