Kalimat memiliki dua dimensi, yaitu terbaca dan terdengar. Bunyikan kalimat untuk menguji apakah ia enak didengar, bukan hanya enak dibaca. Variasikan panjang kalimat seperti halnya variasi dalam lagu untuk menghasilkan ritme atau ketukan yang sedap didengar. Itulah kiat dari Dewi Lestari yang disampaikannya pada gelar wicara Kinara Narabahasa, Minggu, 4 Juli 2021. 

Dee, panggilan akrab Dewi Lestari, gemar berkhayal sejak kecil. Kesukaan itulah—ditambah dengan teladan dari sang Bapak yang senang bercerita—yang membuat Dee mulai menorehkan penanya pada sebuah buku tulis kosong ketika masih di bangku kelas lima sekolah dasar. Tulisan itu berwujud menjadi novel mini tentang seorang anak perempuan dengan rumahnya yang indah.

Saat SMP, penulis heksalogi Supernova ini pertama kali mengirim tulisannya ke majalah Mode yang ketika itu sering memuat cerita pendek. “Mode satu-satunya yang mencantumkan honor untuk tulisan,” kata Dee mengungkap alasannya. Tulisan itu, dan beberapa tulisan lain yang dikirimkan ke berbagai majalah, belum berhasil melalui seleksi redaktur. Dee baru berhasil membuktikan penerimaan tulisannya oleh publik ketika menjuarai lomba menulis esai saat lulus SMA.

“Jangan pernah membuang ide,” kata Dee yang selalu menyimpan ide tulisannya. Menurutnya, pengaruh ide dari orang lain pun wajar ketika awal menulis. Naskah Rapijali yang sekarang diterbitkan dalam bentuk trilogi merupakan contoh nyata bagaimana catatan ide dapat diwujudkan setelah tujuh belas tahun tersimpan. Naskah itu bahkan merupakan drama yang paling kompleks yang pernah digarap Dee karena karakter yang banyak dan cerita yang panjang. Namun, naskah itu juga menantang dan menarik karena mengangkat elemen renjana Dee yang lain: musik.

Dee menulis puisi, lirik lagu, cerpen, novel, dan, akhir-akhir ini, buku nonfiksi. Cara mengerjakan tiap tulisan itu berbeda. Puisi dan lirik lagu ditulis secara spontan dan cerpen pun dapat ditulis dengan satu kali duduk. Namun, novel dan buku perlu strategi dan kerangka. Bukan masalah jika ada perubahan di tengah jalan, tetapi ragangan diperlukan sebagai panduan, terutama ketika terjadi kebuntuan penulis (writer’s block).

Kebuntuan penulis dapat terjadi karena masalah nonteknis dan teknis. Masalah nonteknis berupa kejenuhan dapat diatasi dengan cukup mudah melalui pengalihan perhatian ke hal lain. Namun, masalah teknis berupa struktur atau sebab-akibat memerlukan upaya yang lebih, seperti melalui riset dan penguraian pikiran. Pada akhirnya, tenggat merupakan pendorong yang terbaik untuk segala kebuntuan.

Draf pertama merupakan hasil proses penemuan. “Draf perlu difermentasi kayak bikin roti,” ujar Dee. “Fermentasi” itu dilakukan dengan jeda untuk menjauhkan diri dari tulisan sebelum meninjaunya kembali. Dee menganjurkan jeda 10 hari untuk novel dan 3 hari untuk cerpen. Setelah jeda, peninjauan tulisan secara mandiri dilakukan seperti halnya mengasah permata. Permata tulisan barulah layak disajikan kepada pembaca ketika sudah diasah melalui proses swasunting.

***

Kinara adalah gelar wicara rutin yang diadakan oleh Narabahasa dengan narasumber penulis fiksi dan nonfiksi setiap hari Minggu, pukul 17.00 WIB, di Twitter Space. Gelar wicara itu bertujuan menggali mengapa dan bagaimana narasumber menulis sebagai bahan inspirasi dan wawasan bagi pendengar. Narabahasa adalah penyedia layanan dan produk kebahasaan dengan visi Kuasai bahasa, kuasai dunia.

***

Penulis: Ivan Lanin