Felicia Nuradi Utorodewo, dosen Sastra Indonesia di Universitas Indonesia, berbagi pengetahuan tentang paragraf secara tuntas dalam Kelas Daring Praktis (KDP) Kiat Mengembangkan Paragraf pada Selasa, 16 November 2021, melalui ruang Zoom.

Ia mengatakan, pada hakikatnya paragraf ialah bagian wacana yang mengungkapkan satu pikiran secara lengkap. Fungsinya agar dapat memudahkan pembaca ketika memahami sebuah wacana.

Ketika mengembangkan paragraf, hal yang perlu diperhatikan ialah keutuhannya. Keutuhan itu terdiri atas adanya kesatuan, ketuntasan, keruntutan, konsistensi, dan kepaduan. Felicia menjelaskannya satu per satu.

Pada kesatuan, sebuah paragraf yang baik hanya memuat satu gagasan utama. Gagasan tersebut dapat menentukan jumlah kalimat dalam paragraf.

“Kesatuan ini diperoleh ketika kalimat-kalimat dalam paragraf merujuk pada satu gagasan utama,” ucapnya.

Kemudian, ia menerangkan ketuntasan. Menurutnya, ketuntasan diperoleh jika informasi dalam paragraf dibahas secara lengkap dan mendalam. Ketuntasan informasi juga menentukan panjang suatu paragraf.

Untuk menghasilkan informasi yang lengkap, Felicia menyampaikan bahwa penyusun paragraf harus menyajikan tiap informasi secara urut dan logis. Kedua poin tersebut dibahas pada bagian keruntutan.

Sementara, pada bagian konsistensi, ia berkata bahwa sudut pandang dalam suatu paragraf harus sama dari awal hingga akhir.

“Konsistensi ini diperoleh ketika kita melihat ataupun menganalisis suatu persoalan, kemudian kita tuangkan secara konsisten dalam satu paragraf,” lanjutnya.

Unsur terakhir keutuhan paragraf ialah kepaduan. Felicia menyatakan, kepaduan itu diperoleh ketika hubungan antarkalimat serasi.

“Kepaduan dapat rusak apabila urutan pikiran menyimpang, uraian pemikiran tidak lengkap, serta gagasan menumpuk dalam satu paragraf,” jelasnya.

Pada akhir KDP, Felicia menjelaskan panjang sebuah paragraf. Menurutnya, panjang paragraf tidak dapat ditetapkan secara mutlak. Misalnya, dalam laras ilmiah yang beragam formal, sebuah paragraf minimal terdiri atas tiga kalimat. Hal itu bergantung pada pikiran yang hendak dikembangkan. Jelasnya, paragraf yang terlalu panjang akan menyulitkan pembaca untuk berkonsentrasi sekaligus memahami gagasan yang ingin penulis sampaikan.

***

Penulis: Rassya Priyandira
Penyunting: Harrits Rizqi