Kelas Daring Publik: Ide Menulis dari Pengalaman Pribadi

oleh Narabahasa

Kelas Daring Publik (KDP) Narabahasa kembali digelar pada Sabtu, 13 Desember 2025, pukul 09.00–11.00 WIB dengan topik “2 Jam Kreatif: Menulis Cerita dengan Fondasi yang Kuat”. Kelas ini dibimbing oleh Rza Kumar, praktisi penulisan dan konten sekaligus penulis skenario film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu; serta ditemani Ryan Nira, seorang pencerita jenama.

Dengan latar belakang peserta yang beragam, kelas ini menjadi ruang belajar menulis cerita melalui contoh-contoh nyata dan interaksi aktif di kolom komentar. Rza Kumar juga membagikan kiat-kiat mengolah pengalaman personal menjadi cerita, termasuk pengalaman patah hati.

“Saat coach saya bilang ‘mengubah patah hati menjadi royalti’, saya berpikir, apakah semua ini hanya tentang uang? Setelah merasakan hidup dari tulisan, saya justru melihatnya sebagai cara mengubah patah hati menjadi memori,” kata Rza.

Dalam pemaparannya, Rza menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki cerita, tetapi tidak semua orang menyadarinya. “Setiap manusia punya cerita masing-masing. Bedanya, ada yang merasa ceritanya tidak menarik, ada juga yang mau melihat dari sudut pandang lain,” ujarnya.

Rza menjelaskan bahwa sebuah cerita setidaknya memiliki tiga unsur utama, yaitu waktu yang berjalan, karakter yang diikuti, dan kejelasan tentang apa yang diceritakan. Ia juga mengingatkan bahwa pengalaman pribadi sering kali diremehkan, padahal justru bisa menjadi bahan cerita yang kuat. “Jangan-jangan pengalaman pribadi kita justru bisa menjadi ‘bensin’ pekerjaan kita,” katanya.

Untuk menghindari kehabisan ide, Rza membagikan dua cara sederhana. Pertama, melalui “PR kehidupan”, yaitu mencatat peristiwa yang paling membekas setiap hari. Kedua, melalui “pupuk kehidupan” dengan mengenali diri sendiri melalui tiga pertanyaan: apa yang dialami, apa yang dipelajari, dan apa yang diyakini.

Kerangka berpikir menulis cerita adalah memadukan pengalaman dengan pelajaran hidup sehingga dapat melahirkan kepercayaan. Kepercayaan yang dipadukan dengan kemampuan bercerita dapat menjadi tulisan yang bisa dirasakan banyak orang. “Mengenal diri sendiri membuat tulisan lebih personal, jujur, dan beresonansi dengan banyak orang,” ungkap Rza.

Sepanjang kelas, Rza dan Ryan memberikan contoh ide secara langsung, mengajak peserta berlatih membuat premis, serta berdialog aktif melalui pesan langsung. Interaksi yang cair membuat kelas terasa hidup.

Untuk menutup sesi, Ryan Nira mengingatkan peserta agar tidak berhenti pada belajar semata. “Jangan terlalu banyak mencari kelas sebelum mempraktikkan apa yang dipelajari. Kemampuan menulis diasah dari jam terbang, bukan hanya jam belajar,” ujarnya.

Sementara itu, Rza Kumar menutup kelas dengan refleksi pentingnya bercerita. “Sebagai manusia, kita punya ingatan yang terbatas. Kita akan melupakan dan akan dilupakan. Minimal, jika kita tahu cara bercerita, kita bisa meninggalkan argumen dan kepercayaan yang diserap. Bercerita adalah salah satu cara kita tetap hidup, meski suatu hari sudah tidak ada di dunia ini,” tutupnya.

 

Penulis: Yuhaenida Meilani

Penyunting: Rifka Az-zahra

Anda mungkin tertarik membaca

Tinggalkan Komentar