“Menulis adalah tempat berlari yang asyik dari belenggu ketakutan menyampaikan gagasan secara lisan.” Itulah pandangan Pangeran Siahaan, pendiri Asumsi, institusi media yang berfokus pada bahasan politik dan budaya pop.

Dalam Kinara (Kicauan Narabahasa) pada Minggu, 27 Maret 2022, Pange (sapaan Pangeran) mengatakan bahwa ia sudah menulis sejak kecil. Menulis baginya ialah cara terbaik untuk menuangkan gagasan karena ia pernah merasa takut untuk berbicara.

“Dahulu, saya orang yang tidak pandai berbicara, bahkan cenderung takut. Saya menemukan bahwa tulisan, baik secara pasif sebagai pembaca ataupun secara aktif sebagai penulis, itu adalah sebuah tempat berlari yang sangat mengasyikkan,” ujar Pange.

Pange merasa bahwa tidak ada medium lain yang lebih tepat untuk menyampaikan apa yang ingin ia katakan selain tulisan. Ia lantas mulai memublikasikan tulisannya melalui blog pribadi. Berawal dari blog tersebut, Pange akhirnya memberanikan diri untuk mengirim tulisan ke media.

“Blog menjadi satu tempat berlatih juga buat saya. Mungkin, ada sekian tahun di mana blog itu menjadi satu-satunya tempat saya menulis sebelum akhirnya memberanikan diri mengirimkan tulisan kepada media yang bergerak secara profesional,” tutur Pange.

Bekerja di bidang jurnalistik dan media merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh Pange. Ia bahkan mengenyam pendidikan jurnalistik untuk jenjang sarjana. Selama berkuliah, Pange bekerja di sebuah majalah pria kenamaan tanah air. Selain itu, ia juga bekerja sebagai bloger profesional untuk media nasional.

Dari sana, Pange mendapat kesempatan untuk merambah dunia televisi. Ia sempat menjabat sebagai Chief Creative Writer dalam program Provocative Proactive Metro TV sebelum akhirnya menjadi hos di beIN Sports yang membuatnya jatuh hati dengan dunia olahraga.

Setelah merasakan atmosfer kerja di dunia TV yang memerlukan kemampuan berbicara, Pange tetap menjadikan menulis sebagai cara berkomunikasi yang nyaman untuk menyampaikan gagasan. Jika dibandingkan dengan berbicara, menulis menyediakan lebih banyak ruang dan waktu untuk mengeksplorasi segala sudut pandang atau wacana yang muncul di kepalanya.

“Sebenarnya, sih, saya lebih merasa menulis itu paling nyaman dalam mode untuk berkomunikasi atau untuk menyampaikan gagasan,” sebut Pange.

Ia terbiasa menulis esai dan berita khas (feature). Ia pun tertarik dengan dua isu, yakni olahraga dan politik. 

Berita khas olahraga karya Pange identik dengan kalimat tohokan (punchline) di bagian akhir. Itu disebutnya sebagai faktor wow yang bertujuan agar pembaca dapat terkesan dengan tulisannya. Ia bahkan jarang membuat kerangka tulisan ketika menulis berita khas tersebut. 

“Biasanya, kalau menulis berita khas itu, mengalir saja. Cuman, saya selalu memberi punchline (tohokan) di akhir tulisan. Sering kali, saya sudah tahu ujungnya seperti apa. Lalu, dirancanglah tulisan itu biar bisa mengarah ke sana,” jelasnya.

Sementara, dalam penulisan tema politik, Pange mengedepankan argumen yang solid dan struktur tulisan yang rapi. Menurutnya, tema politik dan olahraga membutuhkan kecakapan menulis yang berbeda. Namun demikian, pada keduanya, yang terpenting ialah gagasan yang ingin disampaikan dapat dimengerti oleh pembaca.

“Pada artikel olahraga, tidak ada gagasan yang sangat kritikal. Sesederhana untuk menghibur orang. Tapi, kalau ngomongin soal politik, rambu-rambunya lumayan harus taat,” kata Pange.

Sebagai penulis, Pange pun melakukan swasunting. Ia selalu menyunting tulisannya sendiri sebelum memberikannya kepada editor. Dalam hal ini, Pange cukup perfeksionis.

“Saya itu termasuk orang yang lama dalam menulis karena saya mengedit sendiri sampai ke tanda baca dan hal-hal yang sebenarnya dapat dilakukan oleh editor. Saya cenderung perfeksionis,” ungkapnya.

Penulis : Fath Putra Mulya
Penyunting : Harrits Rizqi