Narabahasa turut membersamai perjuangan para jurnalis dan humas melalui Kelas Daring Praktis (KDP) bertajuk “Kiat Menulis Berita dan Siaran Pers”. KDP ini berlangsung pada Jumat, 22 Oktober 2021, di ruang virtual Zoom.

Sebelum memulai kelas, Qinthara Silmi Faizal selaku moderator bertanya kepada salah satu peserta mengenai alasannya mengikuti kelas ini. Farandy Purba, humas suatu instansi pemerintah, mengungkapkan bahwa saat ini ia perlu belajar lebih dalam ihwal menulis siaran pers untuk kebutuhan instansinya.

“Saya merasa sekarang ini perlu banyak belajar membuat siaran pers untuk instansi. Selama ini siaran pers yang saya buat masih kurang. Sudah cari-cari kelas tentang jurnalistik, tetapi baru ketemunya di Narabahasa,” ucapnya.

Ivan Lanin (Direktur Utama dan Widyaiswara Narabahasa) pun memulai kelas dengan pemaparan mengenai karakteristik jurnalistik. Pada kesempatan itu, Ivan menjelaskan istilah, saluran, dan produk jurnalistik, serta kelayakan berita.

Selanjutnya, Ivan membahas tahapan penyusunan berita. Menurutnya, ada empat tahap yang harus dilalui jurnalis dalam menyusun sebuah berita, yaitu perencanaan, peliputan, penulisan, dan penyuntingan.

“Secara umum, penyusunan terdiri atas tiga tahapan, yaitu perencanaan, penulisan, dan penyuntingan. Itu secara umum. Namun, dalam jurnalistik, ada satu tahap yang cukup penting dan tidak ada dalam produk penulisan lainnya, yaitu tahap peliputan. Ini kekhasan dari produk jurnalistik,” ujar Ivan.

Pada tahap perencanaan, Ivan menjelaskan bahwa seorang jurnalis harus melakukan riset, menentukan sudut pandang tulisan, serta menyiapkan bahan berupa informasi dasar yang nantinya akan ditanyakan lebih dalam kepada narasumber.

Pada tahap peliputan, Ivan membagi paparannya menjadi dua bagian, yaitu wawancara dan observasi. Menurutnya, kedua bagian tersebut harus dilakukan seorang jurnalis ketika meliput suatu peristiwa.

Setelah mendapatkan bahan yang cukup dari peliputan, tahap yang selanjutnya dilakukan ialah penulisan. Pada tahap ini, Ivan menjelaskan perihal penggunaan piramida terbalik, pemilihan judul, serta cara menulis kutipan di dalam berita.

Usai menulis, ada satu lagi aspek yang harus dilalui serta menjadi finalisasi dalam penyusunan berita. Aspek itu ialah penyuntingan.

“Meski sudah berpengalaman, aspek penyuntingan ini tidak boleh diabaikan. Penyuntingan dilakukan untuk memeriksa beberapa kesalahan, yaitu nalar, data, gramatika, dan tik,” lanjut Ivan.

Pada kelas tersebut, Ivan turut menjelaskan laras bahasa jurnalistik serta membedah beberapa studi kasus agar para pegiat jurnalistik itu juga paham secara praktik.

***

Penulis: Rassya Priyandira
Penyunting: Harrits Rizqi