Narabahasa Kupas Struktur dan Bahasa Naskah Dinas dalam Kelas Luring Publik
Kelas Luring Publik (KLP) kembali diselenggarakan oleh Narabahasa dengan tajuk “Menyusun Naskah Dinas yang Tertib dan Tepat” pada Sabtu, 5 November 2026, pukul 09.00 s.d. 16.00 WIB di Omah Martimbang, Jakarta Selatan. Kelas yang diisi oleh Ivan Lanin sebagai pengajar ini berfokus pada empat topik utama, yakni fungsi dan tujuan naskah dinas, struktur pesan dan permintaan tindak lanjut, bahasa kedinasan yang jelas dan efektif, serta bedah naskah dinas dan praktik penyuntingan. Peserta yang mengikuti kelas ini hingga akhir mendapatkan sertifikat, modul digital, dua kali rehat kopi, satu kali makan siang, dan cendera mata.
Kelas yang diikuti tujuh peserta dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ini dipandu oleh Nabila Azhari sebagai moderator yang menyambut kedatangan peserta dengan semangat melalui pantun. Sebelum pemaparan materi dimulai, Ivan memantik peserta dengan bertanya terkait perbedaan naskah dinas dengan naskah bisnis. “Kita bisa melihat perbedaan ini dari segi fungsi naskah dinas yang dapat kita petakan menjadi lima, yakni sebagai wakil bagi lembaga, bukti tertulis, rekaman sebuah kegiatan, pengingat bagi pelaksana, dan pedoman kerja,” jelasnya. Ivan juga menegaskan bahwa tulisan merupakan bentuk peradaban manusia untuk merekam ingatan sehingga wajar saja jika sulit menyusunnya dalam waktu singkat.

Selain memaparkan materi, Ivan juga meluangkan waktu untuk berbincang singkat dengan para peserta terkait fokus tugas mereka dalam menulis beragam naskah dinas. Jawaban peserta beragam, mulai dari surat keputusan, surat kerja sama, surat pemberhentian pensiun, rancangan peraturan, dan sebagainya.
Selanjutnya, pembahasan beralih pada pemetaan jenis-jenis naskah dinas, seperti naskah dinas arahan, korespondensi, dan lain-lain. “Dalam penyusunan tiap jenis naskah dinas, kita juga tetap membutuhkan empat aspek lainnya, yaitu format, bahasa, substansi, dan mekanisme,“ ujar Ivan. Ia juga menuturkan bahwa jenis-jenis naskah dinas ini termuat dalam Keputusan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Nomor 130 Tahun 2025.
Kemudian, Ivan mengajak peserta untuk menguraikan beberapa contoh naskah dinas, seperti nota, memorandum, dan laporan. Lebih lanjut, Ivan tidak hanya menampilkan bentuk dari jenis naskah dinas, tetapi juga memaparkan struktur yang dapat membedakan jenis surat dan laporan. “Struktur setiap naskah dinas sebetulnya berpedoman pada struktur umum, seperti pembuka (konteks), isi (maksud dan tujuan), dan penutup (simpulan). Namun, sering kali kita memahami lampiran dalam laporan kegiatan untuk diisi dengan bukti foto saja. Padahal, lampiran justru harus dimuat dengan materi pendukung lainnya selama kegiatan berlangsung,” ungkap Ivan.
Berikutnya, Ivan juga membahas penyusunan naskah dinas dari konteks kebahasaan. Ia memulainya dengan mengajak peserta untuk membandingkan dua gaya komunikasi yang memiliki karakteristik berbeda. Ada yang kabur (santai) dan tegas (lugas). Ia kemudian menjabarkan beberapa unsur permintaan tindak lanjut dengan gaya yang berbeda. Irvan, salah satu peserta, bertanya lebih baik menggunakan kalimat aktif atau pasif.
“Secara umum, kalimat aktif itu lebih terkesan tegas, sementara kalimat pasif cenderung kabur. Namun, kebanyakan naskah dinas di Indonesia lebih banyak ditemukan menggunakan kalimat pasif sehingga tidak ada aturan bakunya tergantung bagaimana tujuan dari penulis dan bentuk naskah dinas apa yang sedang disusun,” jawab Ivan.

Pada kesempatan yang sama, Ivan mengajak peserta untuk memahami bahwa pengolahan bahasa sudah terpikirkan secara alami oleh manusia bahkan ketika gagasan masih dalam kepala. “Namun, menulis merupakan keterampilan berbahasa paling sulit karena menyangkut pemahaman ejaan, pemilihan diksi, tanda baca, kohesi dan koherensi, hingga tipografi,” ucap Ivan.
Selama kelas berlangsung, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai struktur dan jenis naskah dinas, tetapi juga mempelajari cara menyusun jenis naskah sesuai kebutuhan divisi mereka dengan memperhatikan konteks dan kaidah bahasa. Selain mendapatkan pemahaman dari sesi pemaparan Ivan, peserta juga diberikan kesempatan untuk berkonsultasi mengenai salah satu naskah dinas yang pernah mereka susun. Moderator mengarahkan mereka untuk mengunggah dokumen tersebut melalui tautan yang telah disiapkan.
Unggahan dokumen tersebutlah yang kemudian menjadi acuan bagi Ivan untuk membedah satu per satu setiap dokumen menggunakan seluruh aspek kebahasaan, struktur, hingga tipografi. Kelas ditutup dengan sesi foto bersama yang dipandu oleh moderator. Pada akhir kelas, Ivan juga menyampaikan bahwa hadirnya bantuan akal imitasi (AI) yang kini memengaruhi hampir seluruh bagian hidup manusia jangan sampai mengakibatkan cognitive surrender. Orisinalitas ide dari pemikiran kita justru yang masih tersisa dari manusia untuk waktu sekarang, termasuk dalam penulisan naskah dinas.
Penulis : Jovita Dwi Swistika Murti
Penyunting : Rifka Az-zahra
Narabahasa Kembali Berbagi Praktik Penulisan Laporan Ilmiah dan Bisnis di MTI UI
Kelas Daring Publik: Tiga Jalan, Beragam Peluang
Ivan Lanin Apresiasi Karya Cerpenis Indonesia dalam Malam Anugerah Cerpen Kompas 2025