Narabahasa Kembali Berbagi Praktik Penulisan Laporan Ilmiah dan Bisnis di MTI UI
Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia (MTI UI) kembali mengundang Narabahasa sebagai narasumber dalam Kuliah Tamu: Penulisan Laporan Ilmiah dan Bisnis. Diskusi berlangsung secara luring pada Jumat, 30 Oktober 2026, pukul 19.00–21.30 WIB di Gedung Magister Teknologi Informasi UI, Jakarta. Kegiatan yang diikuti oleh 20 mahasiswa ini terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni keterampilan berbahasa, penulisan laporan ilmiah, dan laporan bisnis.
Ivan Lanin mengungkap bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang kerap ia hadiri setiap semester. “Saya kira sudah hampir 13 tahun. Namun, selalu ada kesenangan tersendiri ketika dapat berbagi pengalaman kepada para junior, terutama seputar penulisan yang telah menjadi perhatian saya,” ungkap Ivan yang juga merupakan lulusan dari MTI UI 2012. Selain Ivan, diskusi ini turut dihadiri oleh Betty Purwandari, dosen Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom UI), serta dua asisten pengajar, yakni Yordan Yasin dan Rivaldi Rizal.
Momentum kuliah umum ini memberikan ruang bagi Ivan untuk menegaskan bahwa semua penelitian harus bermula dari masalah. Gagasan tersebut kemudian dikuatkan oleh Ivan melalui empat contoh bentuk nyata dari makalah beberapa mahasiswa yang telah ia pelajari sebelumnya. Makalah tersebut ia gunakan untuk meninjau alur pembahasan agar tidak berhenti pada teori, tetapi langsung pada penelitian yang sedang mereka kerjakan.
“Ada instansi yang perlu menguatkan keamanan informasi, komunitas jual-beli yang kesulitan untuk mengelola transaksi, dan ada pula penyedia layanan teknologi yang harus menentukan prioritas perbaikan kualitas pelayanannya,” ujar Ivan.
Kemudian, Ivan mulai membedah empat makalah penelitian tersebut melalui tiga sudut pandang. Pertama, ia menguraikan penggunaan bahasa yang baik dan benar melalui tataran bahasa, mulai dari wacana, paragraf, kalimat, kata, hingga ejaan. Kedua, ia membahas penalaran dalam menyusun pembahasan penelitian. Ketiga, ia menyorot penyajian laporan bisnis yang perlu memperhatikan kebutuhan dan karakteristik pembacanya.
“Contoh dari makalah mahasiswa menunjukkan bahwa terdapat adanya pengulangan gagasan, kalimat berbelit, dan hubungan antarbagian yang belum jelas,” jelas Ivan. Ia menegaskan bahwa penyuntingan tidak hanya berfokus pada kesalahan ejaan, pilihan kata, atau perbaikan kalimat, tetapi harus melibatkan susunan pikiran.
Untuk membantu mahasiswa dalam membangun penalaran penulisan ilmiah yang runtut, Ivan memperkenalkan kerangka MAS (masalah, akibat, sebab) dan DASAR (data, analisis, solusi, dan afirmasi).Contoh makalah memperlihatkan bahwa mahasiswa perlu membedakan antara penyebab kesulitan integrasi sistem dan solusi berupa rancangan arsitektur perusahaan. Pada kesempatan tersebut, Ivan juga menekankan pentingnya memilih solusi yang harus tepat dalam menjawab masalah berdasarkan bukti konkret.
Pembahasan berlanjut pada laporan bisnis yang fokus menguliti rangkaian argumentasi serta tinjauan pustaka penyajian data, simpulan, kutipan, dan abstrak pada makalah. “Penulisan makalah juga harus disesuaikan dengan kebutuhan pembaca. Untuk itu, sepanjang kelas saya cukup banyak membahas penggunaan bijak akal imitasi (AI) untuk membantu pencarian informasi, penyusunan kerangka, dan penyuntingan tulisan,” ungkap Ivan.
Gagasannya juga diperkuat dengan peringatan tentang batasan penggunaan AI. “Kita tetap perlu terus melatih kemampuan berpikir kritis, meski sekarang sudah ada mesin yang dapat membantu mengerjakan banyak hal,” tutur Ivan.
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif sepanjang kegiatan. Mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan teknis, mulai dari panjang paragraf, perpindahan halaman, penggunaan istilah asing, penulisan singkatan, hingga pemilihan pola pengembangan paragraf secara deduktif atau induktif. Dari sekian banyak pertanyaan, Ivan tertarik pada satu topik yang membahas seputar penggunaan AI dalam proses penulisan.
Salah satu mahasiswa mengaku bahwa ia sudah terlalu sering menyerahkan pekerjaan kepada AI sehingga ia butuh strategi untuk mempertahankan kemampuan berpikirnya di tengah kemudahan teknologi. “AI digunakan setiap hari tidak masalah, asal kita bijak dalam menggunakannya dan tidak berhenti melatih kemampuan berpikir untuk memahami isu, menyusun kerangka argumentasi, dan menilai kebenaran informasi yang dihasilkan oleh AI,” jawab Ivan.
Topik tersebut akhirnya mengundang Betty untuk turut berpendapat dengan memperkenalkan konsep cognitive surrender. “Cognitive surrender adalah gangguan kognitif pada seseorang untuk menyerahkan proses berpikirnya kepada pihak lain sehingga menurunkan kemampuan untuk mempertimbangkan keputusan sendiri,” jelas Betty. Dari gagasan ini, Ivan kemudian terdorong untuk memperdalam konsep tersebut untuk membahas kecenderungan AI yang mampu meningkatkan keyakinan seseorang terhadap suatu jawaban, bahkan pada jawaban yang keliru. Konsep tersebut akhirnya ia tuangkan melalui tulisannya di Medium yang berjudul “Mencuci Piring Sendiri”.
Akhirnya, kuliah umum ini tidak menjadi sekadar ajang mengenang kenangan selama berkuliah bagi Ivan, tetapi juga kesempatan membagikan pengalaman profesionalnya kepada generasi penerus Fasilkom UI. Lewat diskusi ini, Narabahasa berharap agar mahasiswa kini mulai berhenti menyerahkan seluruh pekerjaannya pada AI dan kembali kritis dengan memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses penulisan.
Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti
Penyunting: Rifka Az-zahra
Narabahasa Kupas Struktur dan Bahasa Naskah Dinas dalam Kelas Luring Publik
Kelas Daring Publik: Tiga Jalan, Beragam Peluang
Ivan Lanin Apresiasi Karya Cerpenis Indonesia dalam Malam Anugerah Cerpen Kompas 2025